Mitos atau Fakta: Ponsel Jadi Magnet Petir di Tengah Hujan Deras?

Ridwan Hanif

Sebuah video yang beredar luas di jagat maya memicu kehebohan dan kekhawatiran di kalangan publik. Rekaman tersebut menampilkan momen menegangkan di mana seseorang tengah asyik merekam kondisi jalanan yang mulai tergenang air dari dalam mobilnya saat hujan deras mengguyur. Tiba-tiba, kilatan petir yang sangat dekat seolah mengarah langsung ke ponsel yang digenggamnya. Narasi yang menyertai video ini, yang beredar di platform media sosial seperti Instagram dengan akun @sr**, menyatakan bahwa kilat menyambar ponsel tersebut. Kejadian ini sontak menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah benar bermain telepon genggam di dalam mobil saat cuaca buruk, terlebih saat hujan lebat, dapat meningkatkan risiko tersambar petir?

Fenomena ini tidak bisa dibiarkan beredar tanpa penjelasan ilmiah yang memadai, sebab dapat menimbulkan kesalahpahaman yang berpotensi membahayakan. Untuk mengklarifikasi keraguan publik, kami menggali penjelasan dari seorang ahli di bidangnya. Toto Sukisno, Dosen Pendidikan Teknik Elektro di Universitas Negeri Yogyakarta, memberikan pandangan mendalam mengenai isu yang beredar ini. Beliau dengan tegas membantah anggapan bahwa petir secara langsung menyambar perangkat ponsel. Menurut Toto, kesalahpahaman umum yang terjadi adalah petir itu sendiri yang mengarah dan menghantam ponsel.

Toto menjelaskan bahwa mekanisme petir menyambar bukanlah seperti magnet yang menarik benda logam tertentu. Petir adalah pelepasan muatan listrik yang sangat besar dan terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik yang ekstrem antara awan dengan awan, atau antara awan dengan permukaan bumi. Ketika terjadi perbedaan potensial yang signifikan, udara yang merupakan isolator listrik tidak mampu lagi menahan aliran muatan, sehingga terjadilah pelepasan muatan yang kita kenal sebagai petir. Dalam konteks ini, ponsel hanyalah salah satu objek yang mungkin berada di jalur pelepasan muatan tersebut, namun bukan berarti ponsel menjadi target utama.

Lebih lanjut, Toto Sukisno menguraikan bahwa petir tidak akan menyambar ponsel secara langsung. Arus listrik yang berbahaya justru akan mengalir melalui benda-benda yang memiliki sifat konduktif, dan dalam kasus ini, yang menjadi perantara adalah arus listrik yang terhubung dengan perangkat tersebut. Jadi, meskipun ponsel itu sendiri terbuat dari material yang tidak sepenuhnya isolator, bahaya utama bukanlah ponselnya, melainkan koneksi listriknya. Oleh karena itu, menurut penjelasan sang dosen, menggunakan ponsel saat hujan pada dasarnya tidak menimbulkan risiko tersambar petir, asalkan perangkat tersebut tidak sedang dalam kondisi diisi daya atau terhubung dengan sumber listrik lainnya.

Penjelasan ini penting untuk dipahami agar masyarakat tidak panik berlebihan dan mengambil tindakan yang tidak perlu. Ketika ponsel sedang diisi daya (charging), artinya ada aliran listrik dari sumber eksternal yang masuk ke perangkat. Jika dalam kondisi seperti ini, dan kebetulan mobil berada di lokasi yang rentan terhadap sambaran petir atau ada benda konduktif lain yang memicu sambaran, maka arus listrik yang mengalir melalui kabel charger bisa menjadi jalur yang berbahaya. Dalam situasi ekstrem seperti itu, bukan ponselnya yang "dipanggil" oleh petir, melainkan arus listrik yang mengalir ke ponsel itulah yang berpotensi membahayakan penggunanya.

Analogi sederhana yang bisa membantu pemahaman adalah membayangkan petir sebagai sebuah "jalan" listrik yang mencari rute terpendek dan termudah untuk mencapai bumi. Benda-benda tinggi, runcing, atau yang terbuat dari material konduktif seperti logam di area terbuka memang lebih berisiko menjadi titik sambaran petir. Mobil, dengan kerangka logamnya, secara teori dapat menjadi penarik petir jika berada di area terbuka dan kondisi memungkinkan. Namun, konsep bahwa ponsel "memanggil" petir adalah sebuah kekeliruan.

Para ahli keselamatan seringkali menekankan pentingnya menghindari penggunaan peralatan elektronik yang terhubung dengan sumber listrik saat badai petir. Hal ini bukan hanya berlaku untuk ponsel yang sedang di-charge, tetapi juga peralatan lain seperti laptop, tablet, atau bahkan peralatan rumah tangga yang terhubung ke stop kontak. Intinya adalah memutus koneksi dengan jaringan listrik eksternal untuk meminimalkan risiko.

Oleh karena itu, kejadian dalam video viral tersebut lebih tepat diinterpretasikan sebagai sebuah kebetulan yang menegangkan. Kilat yang terekam mungkin saja terjadi di dekat mobil, dan pengguna ponsel hanya berada di lokasi yang sama pada saat yang bersamaan. Namun, narasi yang mengaitkan penggunaan ponsel secara langsung dengan "tarikan" petir adalah sebuah kesalahpahaman ilmiah.

Kesimpulannya, kekhawatiran mengenai bermain ponsel di dalam mobil saat hujan dan tersambar petir adalah sebagian besar disebabkan oleh miskonsepsi. Petir tidak secara spesifik menyambar ponsel. Risiko muncul ketika ponsel sedang diisi daya dan terhubung dengan jaringan listrik eksternal, yang dalam kondisi cuaca buruk dapat menjadi jalur penghantar arus listrik berbahaya. Selama ponsel tidak terhubung ke charger, penggunaannya di dalam mobil saat hujan relatif aman dari ancaman sambaran petir secara langsung. Penting bagi kita untuk selalu mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan memahami penjelasan ilmiah di balik fenomena alam yang terkadang menakutkan ini.

Also Read

Tags