Mobil Listrik Bekas: Ladang Bisnis yang Masih Misterius Bagi Pedagang Seken

Ridwan Hanif

Kekhawatiran akan anjloknya nilai jual kembali membuat para pelaku pasar mobil bekas di kawasan Depok dan Bintaro enggan untuk menimbun stok kendaraan listrik. Situasi pasar yang masih labil ini menjadi sorotan di tengah pesatnya perkembangan mobil berteknologi baterai di tanah air.

Para pedagang mobil bekas, yang sehari-hari bergelut dengan dinamika harga kendaraan roda empat, mengungkapkan bahwa ketidakpastian dalam hal harga jual kembali merupakan hambatan utama yang membuat mereka ragu untuk merambah segmen mobil listrik bekas. Selain itu, kemunculan model-model baru yang terus berinovasi dengan fitur yang semakin canggih dan harga yang semakin terjangkau, turut membebani prospek nilai jual unit bekas.

Singgih, seorang pengusaha mobil bekas dari Willies Mobil yang beroperasi di Depok, mengaku belum pernah sekalipun terlibat dalam transaksi jual beli kendaraan listrik. Baginya, pasar mobil listrik bekas belum menawarkan jaminan bisnis yang aman dan menguntungkan. "Saya belum pernah mengambil atau menjual mobil listrik," ungkapnya. Singgih lebih lanjut menjelaskan bahwa ia merasa belum yakin sepenuhnya terhadap pasar mobil listrik bekas, terutama terkait prospek penjualannya.

Pandangannya, para pedagang di segmen menengah sangat berhati-hati terhadap jurang pemisah harga yang lebar antara unit baru dan bekas dari mobil listrik. "Perbedaan harga antara mobil listrik baru dan bekas itu sangat signifikan," tegas Singgih. Ia membandingkan, "Mobil bensin yang sudah dipakai tiga tahun, apakah harganya akan turun sampai 50 persen? Tentu tidak."

Singgih juga mengamati bahwa meskipun data dari GIIAS 2025 menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap uji coba kendaraan listrik, dengan BinguoEV memimpin survei, profil konsumen mobil listrik saat ini cenderung terbatas pada kalangan ekonomi atas atau mereka yang sekadar ingin mengikuti tren dan menampilkan citra peduli lingkungan. Ia berpendapat bahwa mobil listrik mungkin lebih hemat dari segi konsumsi energi, namun belum tentu memberikan keuntungan finansial yang signifikan dalam jangka panjang dibandingkan mobil konvensional.

Sejalan dengan pandangan Singgih, Zidan dari Salman Auto Mobilindo menambahkan bahwa fluktuasi harga mobil listrik baru yang sering terjadi justru menjadi penyebab utama kekacauan di pasar mobil bekas. Ia mencontohkan, "Harga Wuling Air ev yang kemarin sekian, lalu harga barunya dipotong lagi." Zidan juga menyoroti bagaimana kehadiran model-model baru dengan spesifikasi lebih mewah namun ditawarkan dengan harga lebih terjangkau, seperti Wuling BinguoEV, semakin menekan nilai jual mobil listrik bekas. "Belum lagi sekarang ada Wuling BinguoEV yang harganya lebih murah, tapi fiturnya lebih mewah," keluhnya.

Di kawasan Bintaro, Rama dari Rama Dagang Mobil juga menyatakan keengganannya untuk menambah stok kendaraan listrik, khususnya yang berasal dari pabrikan Tiongkok. Ia mengakui bahwa saat ini mobil listrik dari Tiongkok memang memiliki keunggulan dibanding model bensinnya. Namun, ia mengemukakan kesulitan dalam menentukan skema harga beli dan jual. "Tapi mobil listrik bekas juga mau kita bayarin berapa? Kita ambil berapa, jual berapa," ujarnya. Rama menjelaskan bahwa dengan semakin murahnya harga mobil listrik baru, terutama setelah kehadiran BYD Atto 1, persaingan menjadi sangat sulit. "Sulit bersaing dengan harga barunya," keluhnya.

Faktor lain yang berkontribusi pada rendahnya minat pasar terhadap mobil listrik bekas adalah kecenderungan konsumen untuk memilih unit baru demi mendapatkan jaminan garansi yang utuh. Rama menambahkan, "Terus, trennya mobil bekas listrik emang belum ke sana sepertinya. Karena (untuk mobil listrik) orang beli baru. Terus kan ada beberapa garansi yang gugur kalau mobil bekas listrik."

Kekhawatiran akan depresiasi nilai yang cepat, ditambah dengan persaingan ketat dari model baru yang semakin terjangkau dan jaminan garansi yang lebih menarik pada unit baru, menciptakan lanskap pasar yang penuh tantangan bagi pedagang mobil bekas yang ingin merambah segmen kendaraan listrik. Masa depan mobil listrik bekas di pasar sekunder tampaknya masih membutuhkan waktu untuk matang, seiring dengan perkembangan teknologi, penetapan harga yang lebih stabil, dan pemahaman konsumen yang lebih mendalam mengenai keunggulan jangka panjangnya. Para pedagang pun memilih untuk menahan diri, mengamati perkembangan pasar, sebelum akhirnya berani mengambil risiko untuk berinvestasi pada kendaraan berteknologi masa depan ini.

Also Read

Tags