Duka menyelimuti Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, setelah seorang siswa sekolah dasar bernama Yohanes Bastian Roja (10) ditemukan meninggal dunia dalam peristiwa tragis yang mengguncang nurani banyak pihak. Anak tersebut diketahui mengakhiri hidupnya setelah keinginan sederhana untuk membeli buku dan pena tak dapat dipenuhi oleh ibunya karena keterbatasan ekonomi.
Bupati Ngada, Raymundus Bena, mengungkapkan hasil penelusuran awal tim yang diterjunkan ke lapangan menunjukkan bahwa sebelum kejadian, Yohanes kerap menanyakan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) kepada ibunya. Harapan akan bantuan pendidikan itu menjadi sandaran bagi kebutuhan sekolahnya yang belum terpenuhi.
“Dia bertanya kapan PIP beasiswanya diurus dan mamanya bilang tunggu nanti pencairan ke bank di kabupaten,” ucap Raymundus kepada wartawan, Kamis (5/2).
Namun, harapan tersebut belum bisa diwujudkan. Secara administratif, pencairan dana PIP terkendala data kependudukan. Kartu Tanda Penduduk (KTP) sang ibu masih tercatat berasal dari Kabupaten Nagekeo, bukan Kabupaten Ngada, sesuai dengan domisili tempat tinggalnya saat ini.
“Sehingga diberitahu untuk pulang dan urus dulu itu (administrasi) di kampung. Terus ditanya lagi anaknya dan dijawab sama lagi kalau akan diurus. Sampai terakhir belum sempat urus, suatu hari itu dia tidak ke sekolah dan ke kebun neneknya,” jelas Raymundus.
Administrasi yang Tak Sederhana bagi Warga Rentan
Dalam penjelasannya, Raymundus menyebut bahwa persoalan administrasi keluarga korban tidak sepenuhnya tertangani. Dari lima bersaudara, hanya kakak pertama dan kedua dari pihak ayah yang berbeda yang telah diurus kepindahan administrasinya ke Kabupaten Ngada. Sementara kakak ketiga hingga Yohanes masih tercatat di wilayah asal, sehingga hak-hak bantuan sosial belum dapat diakses secara optimal.
Pada hari kejadian, Yohanes sempat mendatangi rumah kebun milik neneknya. Namun, sang nenek tidak berada di tempat, meninggalkan Yohanes seorang diri. Beberapa warga yang melintas sempat menanyakan alasan korban tidak masuk sekolah. Kepada mereka, Yohanes menjawab bahwa dirinya sedang sakit kepala.
Tak ada yang menyangka, jawaban singkat itu menjadi percakapan terakhir sebelum tragedi terjadi.
Evaluasi PIP dan Rencana Intervensi Daerah
Raymundus menegaskan bahwa secara prinsip, beasiswa PIP untuk korban sebenarnya tersedia. Namun, persoalan administratif menjadi tembok yang sulit ditembus oleh keluarga dengan keterbatasan akses dan pemahaman.
Kondisi ini, menurutnya, akan menjadi perhatian serius pemerintah daerah ke depan. Ia menyatakan akan mengambil langkah tegas untuk memastikan masyarakat tertib administrasi demi menghindari kejadian serupa.
“Saya akan tegas dan melaksanakan rapat koordinasi untuk identifikasi benar-benar. Kalau masih ada masyarakat yang masa bodoh ya kita mesti tekan door to door,” ujar eks anggota DPRD Ngada dari PKB ini.
Selain pengetatan administrasi, pemerintah daerah juga berencana menyiapkan Program Indonesia Pintar versi daerah, lengkap dengan penyediaan pakaian seragam bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Raymundus juga menyampaikan niatnya untuk hadir langsung dalam prosesi adat kedukaan di makam korban pada Minggu mendatang.
Latar Belakang Keluarga dan Faktor Psikologis
Tim yang diturunkan pemerintah daerah juga menemukan sejumlah fakta lain yang memperlihatkan kompleksitas kehidupan korban. Yohanes diketahui merupakan anak yatim. Ayahnya meninggal dunia saat ia masih kecil, dan Yohanes adalah anak bungsu dari lima bersaudara.
Dalam kesehariannya, Yohanes lebih banyak diasuh oleh neneknya di rumah kebun. Sesekali ia mengunjungi ibunya yang tinggal di kampung lain bersama ayah tiri dan empat anak lainnya. Pola asuh yang terpisah ini diduga turut memengaruhi kondisi emosional korban.
“Sehingga pengalaman-pengalaman inilah yang mungkin membuat anak ini traumatis dan juga dalam perjalanan diambil-alih oleh neneknya di kebun,” jelas dia.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik angka dan prosedur administrasi, terdapat anak-anak yang menggantungkan masa depannya pada kebijakan negara. Ketika akses terhambat dan perhatian terlambat, dampaknya bisa berujung pada kehilangan yang tak tergantikan.






