Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam setelah seorang pejabat militer senior Teheran melontarkan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump. Ancaman tersebut muncul di tengah pergerakan kekuatan militer Amerika di kawasan Timur Tengah, yang dinilai Iran sebagai sinyal eskalasi menuju konfrontasi terbuka. Situasi ini membuat kawasan tersebut kembali berada di persimpangan antara diplomasi rapuh dan potensi konflik bersenjata.
Peringatan paling keras disampaikan oleh Jenderal senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohsen Rezaei. Figur berpengaruh di struktur militer dan politik Iran itu berbicara dalam sebuah pidato publik, menanggapi pernyataan Trump yang disebut-sebut bernada ancaman terhadap Teheran. Rezaei tidak hanya menyinggung kemungkinan serangan, tetapi juga menegaskan bahwa setiap aksi militer AS akan dibalas dengan kekuatan penuh oleh Iran.
Dalam pernyataannya, Rezaei melontarkan kalimat yang langsung menyedot perhatian dunia internasional.
“Trump mengatakan tangannya sudah berada di pelatuk. Kami akan memotong tangan dan jarinya,” tegas Rezaei sebagaimana dikutip dari Iran International.
Ancaman tersebut bukan sekadar retorika kosong. Rezaei juga menegaskan bahwa jika Iran diserang, maka seluruh peluang dialog akan tertutup rapat. Menurutnya, pintu gencatan senjata akan dikunci, dan wilayah Timur Tengah akan berubah menjadi arena yang tidak aman bagi kepentingan militer AS.
“Jika kami bergerak maju, tidak akan ada lagi pembicaraan gencatan senjata. Mundurlah sekarang, jika tidak, tak satu pun pangkalan kalian di kawasan ini yang akan aman,” tambahnya.
Nada keras dari Teheran itu sejalan dengan laporan pergerakan militer Amerika Serikat. Melansir Fox News, sumber militer AS mengonfirmasi bahwa sejumlah aset udara, darat, dan laut sedang diposisikan untuk memberi opsi militer kepada Trump jika ia memerintahkan serangan terhadap Iran. Langkah ini diibaratkan seperti bidak catur yang mulai digerakkan menuju papan permainan, menunggu perintah akhir dari Washington.
Di antara pergerakan tersebut, setidaknya satu kapal induk AS dilaporkan mulai diarahkan kembali ke kawasan Timur Tengah. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah kapal induk yang dimaksud adalah USS Abraham Lincoln atau armada lain yang baru saja bertolak dari Norfolk dan San Diego. Ketidakjelasan ini justru memperbesar spekulasi dan ketegangan, baik di kalangan analis militer maupun publik internasional.
Mohsen Rezaei sendiri bukan sosok sembarangan dalam peta kekuasaan Iran. Ia merupakan mantan Panglima IRGC dan saat ini duduk sebagai anggota Dewan Kebijaksanaan Iran, lembaga strategis yang berperan memberi nasihat kebijakan kepada pemimpin tertinggi negara tersebut. Rezaei juga masuk dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS sejak Januari 2020, karena dianggap berperan dalam memajukan agenda destabilisasi Iran di kawasan.
Di tengah ancaman eksternal, Iran juga tengah menghadapi gejolak internal yang belum mereda. Situasi domestik negara itu telah memasuki hari ke-19 gelombang ketegangan. Badan Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) mencatat sedikitnya 2.677 orang telah ditangkap dalam rangkaian peristiwa tersebut. Kondisi ini menempatkan Iran pada tekanan ganda: ancaman dari luar negeri dan ketidakstabilan di dalam negeri.
Kombinasi antara pernyataan keras pejabat militer Iran dan pergerakan pasukan AS menciptakan atmosfer yang sarat ketidakpastian. Di satu sisi, ancaman Teheran menunjukkan sikap defensif yang agresif. Di sisi lain, kesiapan militer Washington mengirimkan pesan bahwa opsi kekuatan tetap berada di atas meja. Dunia kini menunggu, apakah kedua pihak akan menarik rem sebelum jurang konflik terbuka, atau justru melaju semakin cepat menuju babak konfrontasi yang lebih berbahaya.






