PM Jepang ‘Lady Rocker’ Kirim Sinyal Politik ke Presiden Xi di Tengah Konflik

Sahrul

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan sinyal diplomatik terbaru kepada China di tengah hubungan Tokyo–Beijing yang masih berlapis ketegangan. Meski sebelumnya sempat memicu gesekan akibat pernyataannya terkait Taiwan pada November lalu, Takaichi menegaskan bahwa Jepang tidak menutup pintu komunikasi dengan negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping tersebut.

Pernyataan itu menandai upaya Jepang menyeimbangkan dua poros kebijakan sekaligus: membuka ruang dialog, namun tetap menjaga sikap waspada. Dalam konteks geopolitik Asia Timur, langkah ini ibarat berjalan di atas tali—menjaga keseimbangan antara diplomasi dan ketegasan.

“Negara kita terbuka untuk berbagai dialog dengan China,” ujar perempuan yang juga dikenal sebagai Lady Rocker karena kesukaannya dengan musik rock tersebut, Senin (9/2/2026), dimuat AFP.

Takaichi menekankan bahwa komunikasi antara Jepang dan China sejatinya telah berlangsung. Menurutnya, pertukaran pandangan menjadi fondasi penting untuk meredam kesalahpahaman, meski perbedaan kepentingan tetap ada.

“Kita sudah melakukan pertukaran pandangan. Kita akan melanjutkan pertukaran pandangan. Tetapi kita akan menanganinya dengan tenang dan tepat,” tegasnya setelah memenangkan pemilu dengan kemenangan telak.

Namun, di balik nada terbuka itu, Takaichi juga menarik garis tegas soal kedaulatan. Ia menegaskan bahwa Jepang tidak akan berkompromi dalam urusan perlindungan wilayah, baik di darat, laut, maupun udara. Komitmen tersebut menjadi penegasan bahwa dialog tidak identik dengan sikap lunak.

Dalam pernyataannya, Takaichi menegaskan bahwa kemampuan mempertahankan diri merupakan syarat mutlak bagi sebuah negara yang ingin berdiri tegak di tengah dinamika global.

“Tidak seorang pun akan datang membantu bangsa yang tidak memiliki tekad untuk membela diri dengan tangannya sendiri,” ujarnya.

Ia melanjutkan dengan penekanan bahwa keamanan nasional bukan sekadar konsep abstrak, melainkan perlindungan nyata atas ruang hidup warganya.

“Kami akan dengan teguh melindungi perdamaian dan kemerdekaan bangsa kami, wilayah kami, perairan teritorial, wilayah udara, dan kehidupan serta keselamatan warga negara kami,” tambah Takaichi.

Selain membicarakan hubungan dengan China, Takaichi juga menyoroti poros aliansi strategis Jepang dengan Amerika Serikat. Ia menegaskan kembali kedekatan kedua negara, yang selama ini menjadi pilar utama kebijakan keamanan Tokyo.

Dalam waktu dekat, Takaichi dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Negeri Paman Sam. Pertemuan tersebut diproyeksikan menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama lintas sektor, mulai dari diplomasi hingga pertahanan.

“Mengenai pertemuan dengan Presiden Trump, kami akan menegaskan kembali persatuan yang tak tergoyahkan antara Jepang dan Amerika Serikat, dan lebih lanjut memajukan kerja sama di berbagai bidang termasuk diplomasi, ekonomi, dan keamanan. Kemudian kita akan membuka babak baru dalam sejarah aliansi Jepang-AS,” jelasnya.

Trump sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa Takaichi akan mengunjungi Gedung Putih pada 19 Maret mendatang. Saat berkunjung ke Jepang pada Oktober lalu, Trump juga secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Takaichi dalam kontestasi politik.

Kala itu, ia menyebut Takaichi sebagai “Pemimpin yang kuat, berkuasa, dan bijaksana, dan seseorang yang benar-benar mencintai negaranya”.

Sanae Takaichi sendiri merupakan pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) dan baru saja meraih kemenangan telak dalam pemilu yang digelar sehari sebelumnya. Kemenangan tersebut memperkokoh posisinya untuk melanjutkan agenda-agenda strategis pemerintahan.

Di dalam negeri, keberhasilan ini membuka jalan bagi pemerintah untuk meneruskan rencana pemotongan pajak, kebijakan yang sempat mengguncang pasar keuangan. Sementara di ranah eksternal, Takaichi berkomitmen meningkatkan anggaran pertahanan Jepang sebagai respons atas meningkatnya ancaman dari China.

Dengan kombinasi diplomasi terbuka dan penguatan militer, arah kebijakan Jepang di bawah kepemimpinan Takaichi tampak bergerak seperti irama musik rock yang ia gemari—keras, tegas, namun tetap terstruktur.

Also Read

Tags