Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) perlu terus diawasi sempat mencuri perhatian publik. Ucapan itu terlontar saat agenda retret berlangsung di Hambalang dan memantik beragam tafsir. Namun, Ketua Umum PKB sekaligus Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, menilai pernyataan tersebut tidak perlu dibaca terlalu jauh.
Alih-alih melihatnya sebagai sinyal politik serius, Cak Imin menganggap ucapan Prabowo itu tak lebih dari selingan ringan di tengah suasana pertemuan. Menurutnya, kalimat tersebut lahir dalam konteks candaan yang kerap mewarnai komunikasi personal di antara keduanya.
“Ya bercanda, bercanda,” kata Cak Imin di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2025).
Bagi Cak Imin, relasi dengan Prabowo memang kerap diwarnai canda spontan. Ia menegaskan, dirinya sama sekali tidak merasa tersinggung atau khawatir dengan pernyataan tersebut. Justru, ia memandangnya sebagai bentuk keakraban yang sudah lama terjalin.
“Sering begitu, bercanda begitu, lah. Gojlokan begitu,” ujarnya.
Pernyataan Prabowo soal PKB itu disampaikan saat Presiden memberikan taklimat dalam retret Hambalang yang dihadiri para ketua umum partai koalisi. Dalam suasana tersebut, Prabowo sempat mengabsen satu per satu pimpinan partai yang hadir, layaknya seorang dirigen yang memastikan seluruh pemain orkestra politik berada di tempatnya.
Saat tiba pada giliran PKB, Prabowo menanyakan kehadiran Cak Imin. Dari momen itulah, kalimat berkelakar tentang PKB yang perlu diawasi terlontar, disertai nada ringan yang menandakan tidak adanya muatan serius di baliknya.
“Tapi di sini koalisi kita kuat kan? Ketua partai ada semua ya? Ada,” kata Prabowo dalam retret di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1).
Setelah memastikan seluruh pimpinan partai koalisi hadir, Prabowo melanjutkan dengan candaan yang langsung menyasar PKB.
“Ketua PKB ada? PKB ini harus diawasi terus ini,” lanjut Prabowo sambil berkelakar.
Dalam dinamika politik koalisi, candaan semacam ini kerap menjadi bumbu yang mencairkan suasana. Ucapan yang terdengar tajam di permukaan bisa saja sejatinya lunak ketika ditempatkan dalam konteks relasi personal dan suasana forum. Cak Imin pun memilih membaca pernyataan tersebut dengan kacamata yang sama—ringan, cair, dan tanpa beban politis.
Sikap santai Cak Imin ini sekaligus menegaskan bahwa komunikasi di dalam koalisi pemerintahan masih berada dalam koridor harmonis. Tidak ada kegaduhan lanjutan, apalagi gesekan politik, dari candaan yang dilontarkan Presiden.
Retret Hambalang sendiri menjadi ajang konsolidasi sekaligus penguatan soliditas antarpartai pendukung pemerintah. Di ruang inilah, candaan, sindiran ringan, hingga pesan serius sering bercampur, seperti riak kecil di permukaan air yang tak mengubah arah arus utama.
Dengan respons Cak Imin tersebut, pernyataan Prabowo soal PKB pun kembali ke makna asalnya: sebuah kelakar yang lahir dari suasana akrab, bukan sinyal pengawasan politik yang bernada serius. Dalam politik, tak semua kata harus ditimbang dengan timbangan kecurigaan—sebagian cukup dipahami sebagai senyum yang diselipkan di antara barisan kalimat formal.






