Revolusi Kendaraan Listrik: Dominasi Global Semakin Nyata dalam 3 Tahun ke Depan

Ridwan Hanif

Pergeseran fundamental dalam industri otomotif global kian tak terbendung, dengan kendaraan listrik (EV) diprediksi akan mendominasi hampir sepertiga dari total penjualan mobil baru di seluruh dunia pada tahun 2026. International Energy Agency (IEA) dalam laporan terbarunya, Global EV Outlook 2026, merilis proyeksi ambisius ini, yang didorong oleh kombinasi kebijakan pemerintah yang progresif, penurunan biaya produksi baterai, serta kesadaran konsumen akan alternatif transportasi yang lebih ramah lingkungan di tengah volatilitas harga energi.

Pada tahun 2024, pasar global telah menyaksikan lonjakan penjualan EV yang signifikan, mencapai 17 juta unit, yang setara dengan lebih dari 20% dari total penjualan mobil di seluruh dunia. Pertumbuhan ini tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga dipercepat, di mana penambahan penjualan EV selama tahun 2024 melampaui total penjualan EV global pada tahun 2020. Hal ini menunjukkan akselerasi adopsi yang luar biasa.

China tetap menjadi garda terdepan dalam revolusi elektrifikasi kendaraan. Negara ini memimpin dengan angka penjualan EV yang mengagumkan, mencapai lebih dari 11 juta unit pada tahun 2024. Dominasi China tidak hanya terbatas pada volume penjualan, tetapi juga tercermin dalam pangsa pasar EV di negara tersebut yang hampir menyentuh setengah dari total penjualan mobil baru. Dampaknya, satu dari setiap sepuluh mobil yang beroperasi di jalanan China kini adalah kendaraan listrik.

Sementara itu, pasar Eropa mengalami sedikit perlambatan dalam laju pertumbuhan penjualan EV pada tahun 2024, yang sebagian disebabkan oleh penyesuaian subsidi dan insentif pemerintah. Meskipun demikian, pangsa pasar EV di benua biru ini berhasil dipertahankan pada kisaran 20%. Amerika Serikat menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih stabil, dengan penjualan EV meningkat sekitar 10% per tahun pada 2024, menjadikan EV sebagai pilihan bagi lebih dari satu dari sepuluh pembeli mobil baru di sana.

Menariknya, negara-negara berkembang mulai muncul sebagai pusat pertumbuhan baru bagi kendaraan listrik. Di Asia dan Amerika Latin, penjualan EV melonjak lebih dari 60% pada tahun 2024, mendekati angka 600.000 unit. Volume ini setara dengan ukuran pasar EV di Eropa lima tahun lalu, menandakan potensi besar di kawasan ini. Di Asia Tenggara, penjualan EV mengalami peningkatan signifikan, hampir 50%, dan kini berkontribusi sekitar 9% dari total penjualan mobil di kawasan tersebut. Thailand dan Vietnam menjadi pemimpin dalam penetrasi kendaraan listrik di Asia Tenggara. Brasil juga menunjukkan performa impresif di Amerika Latin, dengan lonjakan penjualan EV lebih dari dua kali lipat menjadi 125.000 unit pada tahun 2024, menempatkan pangsa pasar EV di angka 6%.

IEA menyoroti bahwa intervensi kebijakan pemerintah yang proaktif dan kehadiran produk impor yang lebih terjangkau dari China menjadi pendorong utama di pasar berkembang. Di Brasil dan Thailand, misalnya, EV buatan China mendominasi sekitar 85% dari total penjualan. Secara keseluruhan, ekspor kendaraan listrik dari China menyumbang sekitar 75% dari pertumbuhan penjualan EV di pasar berkembang di luar China pada tahun 2024, menunjukkan diversifikasi pasar ekspor produsen otomotif China.

Menatap ke depan, IEA memproyeksikan penjualan mobil listrik global akan melampaui 20 juta unit pada tahun 2025, mewakili lebih dari seperempat dari total penjualan mobil dunia. Pertumbuhan ini telah terlihat sejak kuartal pertama 2025, dengan lonjakan 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. China diprediksi akan terus menjadi pasar terbesar, dengan estimasi EV mencapai 60% dari total penjualan mobil baru di sana pada tahun 2025, didorong oleh insentif penggantian kendaraan lama dan penurunan harga unit.

Di Eropa, penerapan standar emisi Uni Eropa dan Inggris akan menjadi motor penggerak utama peningkatan penjualan kendaraan tanpa emisi. Pangsa pasar EV di Eropa diproyeksikan mencapai 25% pada tahun 2025. Prospek pasar Amerika Serikat masih dibayangi oleh dinamika kebijakan pemerintah, namun IEA tetap optimis dengan pertumbuhan penjualan EV sekitar 10% pada tahun 2025. Pasar negara berkembang di luar China diperkirakan akan terus melaju pesat, dengan proyeksi kenaikan penjualan sebesar 50% hingga mencapai 1 juta unit pada tahun 2025.

Dalam visi jangka panjang, IEA memperkirakan pangsa EV global akan melampaui 40% dari total penjualan mobil dunia pada tahun 2030. Dominasi China diperkirakan akan tetap kuat, dengan kepemilikan pangsa pasar EV sekitar 80% pada akhir dekade ini. Eropa diproyeksikan mendekati angka 60%, sementara di Asia Tenggara, satu dari setiap empat mobil yang terjual pada tahun 2030 diprediksi merupakan kendaraan listrik.

Salah satu faktor kunci yang mendorong keterjangkauan EV adalah penurunan harga baterai. Persaingan industri yang ketat dan inovasi teknologi telah menurunkan harga komponen vital ini. Meskipun kesenjangan harga dengan mobil konvensional masih ada di beberapa pasar, tren penurunan harga secara umum terlihat pada tahun 2024. Di China, dua pertiga EV yang terjual justru lebih murah dari mobil konvensional, menjelaskan ketahanan pertumbuhan penjualan meskipun insentif pemerintah berkurang. Thailand telah mencapai titik keseimbangan harga, dan Brasil serta Meksiko menunjukkan penyusutan selisih harga yang signifikan. Penurunan harga mineral kritis dan persaingan produsen baterai menjadi pemicu utama merosotnya harga baterai global, dengan China memimpin penurunan harga paket baterai sekitar 30% pada tahun 2024.

Namun, akselerasi populasi EV menuntut pembangunan infrastruktur pengisian daya yang memadai. Jumlah stasiun pengisian daya publik global telah meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, dengan China dan Uni Eropa dianggap sukses menyelaraskan pembangunan infrastruktur dengan pertumbuhan EV. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Inggris masih menghadapi tantangan dalam mengimbangi laju pertumbuhan EV dengan ketersediaan fasilitas pengisian daya. Peningkatan jumlah pengisi daya ultra cepat juga terus berlanjut, mempermudah pengguna EV. IEA menekankan bahwa kapasitas pengisian daya publik global perlu ditingkatkan hampir sembilan kali lipat hingga tahun 2030 untuk mendukung target pertumbuhan kendaraan listrik. Menariknya, konsumsi energi untuk EV diprediksi hanya menyerap sekitar 2,5% dari total permintaan listrik global pada tahun 2030, dan inovasi teknologi pengisian cepat kini mulai menyaingi efisiensi waktu pengisian bahan bakar kendaraan konvensional.

Tren elektrifikasi tidak hanya terbatas pada mobil penumpang, tetapi juga merambah sektor logistik dengan pengembangan truk listrik. Volume penjualan truk listrik global melonjak hampir 80% pada tahun 2024, dengan pangsa pasar mendekati 2% dari total penjualan truk dunia. China kembali menjadi pemimpin pasar truk listrik. Peningkatan jumlah model truk listrik yang tersedia juga pesat. Meskipun investasi awal untuk truk listrik masih lebih tinggi, efisiensi biaya operasionalnya menjadikannya semakin kompetitif. IEA memprediksi bahwa pada tahun 2030, total biaya kepemilikan truk listrik di Eropa dan Amerika Serikat akan setara dengan truk diesel untuk operasional jarak jauh.

Adopsi kendaraan listrik secara masif diproyeksikan akan menekan konsumsi minyak bumi global. IEA memperkirakan pemanfaatan EV di berbagai lini transportasi akan menyubstitusi konsumsi lebih dari 5 juta barel minyak per hari pada tahun 2030, dengan separuh kontribusi berasal dari China. Kendati demikian, IEA mengingatkan bahwa dinamika ekonomi global, kebijakan perdagangan, dan potensi tarif baru dapat memengaruhi laju pasar kendaraan listrik. Penurunan harga minyak bumi juga berpotensi mengurangi daya tarik efisiensi biaya bahan bakar sebagai keunggulan utama EV. Namun, IEA menegaskan bahwa EV tetap menawarkan efisiensi biaya operasional yang lebih baik, bahkan ketika harga minyak dunia merosot tajam.

Also Read

Tags