Perusahaan helm ternama, Shark, menggandeng IRID, sebuah entitas yang ahli dalam pengembangan lensa fotokromik, untuk meluncurkan sebuah inovasi terobosan pada visor helm. Terobosan ini membawa teknologi visor yang jauh melampaui apa yang telah ada sebelumnya, menjanjikan pengalaman berkendara yang lebih aman dan nyaman dalam berbagai kondisi pencahayaan. Berbeda dengan visor fotokromik konvensional yang membutuhkan waktu adaptasi berdetik-detik, bahkan terkadang menit, untuk berubah dari gelap menjadi terang atau sebaliknya, visor teranyar dari kolaborasi Shark dan IRID ini mampu melakukan transisi hanya dalam kurun waktu satu detik.
Inti dari kecanggihan visor ini terletak pada integrasi panel surya mini yang tertanam di dalamnya, dipadukan dengan lapisan film kristal cair. Mekanisme kerjanya sederhana namun revolusioner: ketika panel surya mendeteksi adanya energi cahaya, energi tersebut langsung dimanfaatkan untuk mengaktifkan lapisan kristal cair. Aktivasi inilah yang memungkinkan visor untuk secara instan menyesuaikan tingkat kegelapannya.
Laura Righi, Chief Marketing Officer sekaligus Co-Founder IRID, menjelaskan prinsip kerja teknologi ini. Menurutnya, ketika pasokan energi dari cahaya melimpah, lapisan kristal cair akan aktif dan membuat visor menjadi lebih gelap. Sebaliknya, ketika intensitas cahaya berkurang, lapisan tersebut akan merespons dengan mengurangi kegelapan, menjadikan visor tetap transparan. Keunggulan utama dari teknologi ini adalah kemampuannya untuk merespons perubahan cahaya berdasarkan spektrum cahaya tampak, bukan hanya sinar ultraviolet (UV) seperti pada visor fotokromik pada umumnya.
Implikasi dari pergeseran respons dari UV ke cahaya tampak ini sangat signifikan bagi para pengendara. Visor ini menjadi jauh lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan nyata di jalan raya. Misalnya, saat pengendara melintasi area yang teduh setelah terpapar sinar matahari terik, atau ketika cuaca mendung yang seringkali menyebabkan perubahan cahaya yang cepat dan drastis, visor ini akan menyesuaikan tingkat kegelapannya secara instan, memberikan visibilitas optimal tanpa jeda yang mengganggu.
Selain kecepatan adaptasinya, perubahan tingkat kegelapan pada visor ini juga digambarkan sebagai proses yang sangat halus, tanpa tahapan-tahapan yang terasa jelas oleh mata pengendara. Laura Righi menambahkan, visor ini tidak memiliki tingkat kegelapan yang tetap atau terkotak-kotak, melainkan mengikuti sebuah kurva aktivasi yang terus menerus menyesuaikan diri dengan kebutuhan visual pengendara secara real-time. Ini berarti, pengalaman visual pengendara akan selalu berada dalam kondisi yang paling nyaman, seolah-olah visor tersebut secara proaktif memprediksi dan merespons perubahan lingkungan.
Secara struktural, visor ini tetap mengandalkan material polikarbonat yang dikenal kuat dan ringan, namun diperkaya dengan penambahan lapisan kristal cair yang sangat tipis. Ketebalan total visor ini berkisar antara 4 hingga 5 milimeter. Lapisan teknologi canggih ini telah dilaminasi secara permanen ke dalam visor, menjadikannya bagian integral yang tidak dapat dilepas, berbeda dengan sistem pinlock yang memungkinkan pemasangan atau pelepasan lapisan anti-kabut.
Tak hanya itu, visor pintar ini juga dibekali dengan fitur anti-kabut yang esensial untuk menjaga pandangan tetap jernih, serta diklaim memiliki ketahanan terhadap air. Kombinasi fitur-fitur ini memastikan bahwa visor tetap berfungsi optimal dalam segala jenis kondisi cuaca, baik saat hujan maupun cuaca panas terik.
Saat ini, inovasi visor pintar ini telah kompatibel dengan beberapa model helm premium dari Shark, yaitu Shark Aeron, Aeron GP, dan Race R Pro. Pengguna dapat memilih varian visor sesuai preferensi, mulai dari opsi yang sepenuhnya bening (clear), hingga yang lebih gelap (dark), serta pilihan warna-warni seperti iridium blue. Dengan ketersediaan teknologi ini, para pengendara tidak perlu lagi direpotkan dengan keharusan mengganti visor secara manual saat kondisi pencahayaan berubah, atau bergantung pada aksesori tambahan yang seringkali kurang praktis.
Lebih jauh lagi, teknologi visor pintar yang dikembangkan oleh Shark dan IRID ini direncanakan akan merambah ke merek helm lain di masa depan. Merek-merek seperti Nolan dan LS2 juga dijadwalkan untuk mengadopsi teknologi revolusioner ini, menandakan potensi luasnya pengaruh inovasi ini dalam industri helm global.
Meskipun menawarkan teknologi terdepan, para calon pembeli perlu menyiapkan anggaran yang cukup. Visor canggih ini diperkirakan akan dibanderol dengan harga berkisar antara 340 hingga 370 Euro, yang setara dengan sekitar Rp 6,9 hingga Rp 7,5 jutaan, tergantung pada model helm yang dipilih. Meskipun harganya terbilang premium, investasi pada visor ini diharapkan dapat memberikan nilai lebih dalam hal keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan penggunaan bagi para pengendara sepeda motor yang mengutamakan kualitas dan teknologi terkini. Inovasi ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi antar perusahaan dapat mendorong batas-batas teknologi untuk menciptakan produk yang lebih cerdas dan adaptif, menjawab kebutuhan pengguna di era modern.






