Sorotan Dunia: Bendera Palestina di Perayaan Barcelona Picu Kemarahan Israel

Tommy Welly

Pemerintah Israel merespons dengan tegas aksi bintang muda Barcelona, Lamine Yamal, yang membentangkan bendera Palestina saat perayaan gelar juara Liga Spanyol musim 2025-2026. Insiden ini terjadi di tengah perayaan di atas bus terbuka di Barcelona pada hari Senin, 11 Mei 2026, dan segera menjadi sorotan internasional. Reaksi keras datang dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menganggap tindakan pemain berusia 18 tahun tersebut sebagai sebuah provokasi dan bentuk sentimen anti-Semit. Pernyataan resmi mengenai tuduhan penyebaran kebencian ini dilayangkan oleh pihak Israel tiga hari setelah parade kemenangan tersebut berlangsung.

Menteri Pertahanan Israel secara terbuka menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap pemilihan simbol yang diangkat oleh Yamal, terutama mengingat situasi konflik yang sedang memanas. Ia mengaitkan tindakan pemain tersebut dengan isu keamanan nasional negaranya. Israel Katz dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa Lamine Yamal telah memilih untuk memicu kemarahan dan kebencian terhadap Israel. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks operasi militer Israel yang tengah berlangsung terhadap kelompok Hamas. Katz mempertanyakan landasan moral di balik aksi pengibaran bendera tersebut di hadapan publik.

“Sementara tentara kita tengah berjuang melawan Hamas, sebuah organisasi yang bertanggung jawab atas pembantaian, pemerkosaan, pembakaran, dan pembunuhan warga sipil, termasuk anak-anak, perempuan, dan orang tua Yahudi pada peristiwa 7 Oktober,” ujar Israel Katz, mengutip dari Football Espana. Ia menekankan bahwa klub sekelas Barcelona seharusnya tidak memberikan ruang bagi tindakan yang dianggapnya sebagai bentuk dukungan terhadap terorisme. Katz juga mendesak pihak manajemen klub untuk mengambil sikap yang tegas dan menjaga netralitas.

Lebih lanjut, Israel Katz mengemukakan bahwa siapapun yang mendukung pesan seperti itu patut merenungkan apakah tindakan tersebut dapat dianggap sebagai tindakan kemanusiaan dan apakah secara moral dapat dibenarkan. Pemerintah Israel menegaskan komitmennya untuk tidak tinggal diam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai hasutan terhadap bangsa Yahudi. Katz menuntut agar ada pemisahan yang jelas antara tindakan klub dan perilaku individu para pemainnya.

“Sebagai Menteri Pertahanan Negara Israel, saya tidak akan pernah membiarkan hasutan terhadap Israel dan bangsa Yahudi berlalu begitu saja,” tegas Israel Katz. Kementerian Pertahanan Israel juga menekankan pentingnya FC Barcelona untuk memberikan klarifikasi agar citra klub tetap terjaga di mata dunia. Hal ini menyangkut reputasi Barcelona sebagai institusi olahraga yang dihormati secara global. “Saya mengharapkan sebuah klub besar dan terhormat seperti FC Barcelona untuk menjauhkan diri dari pernyataan-pernyataan semacam ini dan dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada tempat bagi hasutan atau dukungan terhadap terorisme,” tambah Israel Katz.

Menanggapi polemik yang melibatkan salah satu pemain mudanya, pelatih kepala Barcelona, Hansi Flick, angkat bicara. Flick mengungkapkan bahwa ia telah berkomunikasi dengan Lamine Yamal sebelum perayaan dimulai untuk memastikan fokus tim. “Secara umum, saya tidak menyukai hal seperti ini. Saya sudah berbicara dengannya, dan saya katakan bahwa jika dia menginginkan hal ini, dia sudah cukup dewasa, usianya 18 tahun, dan itu adalah keputusannya,” jelas Hansi Flick.

Arsitek taktik asal Jerman ini lebih menekankan pada aspek olahraga dan kebahagiaan para penggemar. Ia menyoroti tingginya emosi para pendukung Barcelona yang merayakan keberhasilan tim meraih gelar liga kedua secara berturut-turut. “Kami bermain sepak bola, dan Anda bisa melihat apa yang diharapkan orang-orang dari kami. Ketika saya melihat para penonton, mereka sangat emosional, air mata mengalir di mata mereka,” ungkap Hansi Flick.

Mantan pelatih Bayern Munich ini menegaskan bahwa prioritas utama skuad adalah memberikan kebahagiaan kepada para penggemar melalui kemenangan di lapangan hijau. Menurutnya, kegembiraan para suporter adalah motivasi utama timnya bertanding. “Mereka sangat senang karena kami kembali menang, gelar yang fantastis ini, yang kedua berturut-turut, dan inilah alasan kami bermain sepak bola,” pungkas Hansi Flick. Peristiwa ini membuka kembali perdebatan mengenai peran atlet dalam menyuarakan pandangan politik dan dampaknya di tengah dinamika geopolitik global. Aksi Yamal, meskipun disambut euforia oleh sebagian kalangan, justru memicu respons diplomatik yang serius dari pihak Israel, menyoroti sensitivitas isu yang terlibat.

Also Read

Tags