Sorotan Tajam Callum Wilson: Ketika VAR Buat Kebingungan di Lapangan Hijau

Tommy Welly

Bintang West Ham United, Callum Wilson, baru-baru ini melancarkan kritik pedas terhadap penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam pertandingan krusial melawan Arsenal. Menurut penyerang asal Inggris itu, inkonsistensi dalam pengambilan keputusan VAR telah memberikan kerugian signifikan bagi timnya, terutama di saat-saat genting di lapangan. Keluhannya muncul setelah sebuah gol yang ia cetak dalam duel London tersebut harus dianulir setelah melalui proses peninjauan VAR yang memakan waktu.

Insiden yang memicu kontroversi ini bermula dari sebuah momen di area terlarang Arsenal. Penjaga gawang The Gunners, David Raya, terlihat kesulitan mengamankan bola di bawah tekanan dari rekan setim Wilson, Pablo. Dalam situasi tersebut, Wilson yang sigap berada di posisi yang tepat berhasil memanfaatkan bola muntah untuk menceploskan bola ke gawang lawan. Namun, sorak-sorai gol itu seketika terhenti ketika wasit Chris Kavanagh memutuskan untuk meninjau ulang kejadian tersebut melalui VAR. Setelah menunggu beberapa saat, keputusan diambil untuk menganulir gol Wilson.

Dasar dari pembatalan gol tersebut adalah dugaan adanya pelanggaran yang dilakukan Pablo terhadap Raya. Pihak wasit menilai ada kontak fisik yang tidak semestinya pada lengan kiper Arsenal sebelum gol tercipta. Meski Ketua PGMOL, Howard Webb, kemudian mencoba memberikan pembelaan terhadap keputusan yang diambil, Wilson tetap bersikeras bahwa standar penerapan aturan VAR tidaklah seragam sepanjang musim. Ia menyoroti bahwa banyak kejadian serupa yang terjadi di pertandingan lain, namun luput dari perhatian atau sanksi dari para pengadil lapangan.

"Bagi saya, itu jelas merugikan kami. Apakah Anda bisa menyebutnya sebagai pelanggaran? Mungkin saja. Namun, yang pasti, sepanjang musim ini kita telah melihat banyak sekali insiden serupa yang terjadi tanpa ada keputusan yang sama dari wasit," ungkap Wilson, seraya menegaskan pentingnya penerapan standar yang konsisten untuk menghindari berbagai keluhan dari para pemain. Ia menambahkan bahwa ketidakseragaman inilah yang seringkali menimbulkan rasa frustrasi di kalangan pesepakbola.

Lebih lanjut, Wilson juga menyoroti adanya kejadian lain yang terjadi beberapa detik sebelum golnya tersebut. Menurutnya, ada sebuah pelanggaran lain yang jelas terjadi pada saat itu, namun justru diabaikan begitu saja oleh tim VAR. Hal ini semakin memperkuat argumennya mengenai kurangnya konsistensi dalam penegakan aturan. Ia berpendapat bahwa jika ada keseragaman dalam mengambil keputusan, maka tidak akan ada lagi keluhan yang muncul dari berbagai pihak, termasuk para pemain.

Penyerang West Ham United itu juga menggarisbawahi sifat penegakan aturan terkait pelanggaran terhadap kiper yang seringkali bersifat sangat subjektif. Ia mengamati bahwa tim-tim lawan kerap melakukan taktik serupa, yakni memberikan kontak fisik kepada penjaga gawang, namun tidak mendapatkan hukuman yang setimpal. Oleh karena itu, Wilson merasa yakin bahwa gol pertamanya dalam pertandingan tersebut seharusnya tetap disahkan. "Jadi, jika Anda memutuskan untuk menjatuhkan sanksi pada satu kejadian, maka Anda harus melakukan hal yang sama pada semua kejadian serupa," tegasnya.

Wilson kemudian membandingkan situasi tersebut dengan taktik yang lazim diterapkan oleh banyak tim di kancah Liga Inggris saat ini. Ia berpendapat bahwa kontak fisik yang terjadi dalam kasusnya tidaklah cukup signifikan untuk membatalkan sebuah gol penting dalam sebuah pertandingan. Ia secara tegas menyatakan bahwa gol tersebut seharusnya dinyatakan sah.

Kritik Wilson tidak berhenti pada insiden golnya saja. Ia juga memperluas pandangannya pada taktik menghalangi pergerakan kiper yang seringkali terlihat dalam situasi bola mati, termasuk yang ia yakini dilakukan oleh kubu Arsenal. Wilson merasa bahwa saat ini terdapat standar ganda dalam penerapan aturan di area kotak penalti. Ia mengamati bahwa ada perlakuan yang berbeda tergantung pada situasi dan siapa yang melakukan kontak fisik.

Menanggapi polemik VAR yang terus bergulir dan menjadi perbincangan hangat di liga, pelatih Manchester City, Pep Guardiola, turut memberikan pandangannya dari sudut pandang yang lebih luas. Guardiola mengingatkan bahwa ketergantungan tim terhadap keputusan wasit, termasuk VAR, dapat diminimalisir apabila sebuah tim mampu menunjukkan performa yang jauh lebih dominan di lapangan. Ia berargumen bahwa fokus utama seharusnya adalah bagaimana tim bisa bermain lebih baik untuk meraih kemenangan, bukan terpaku pada keputusan kontroversial.

Pelatih asal Spanyol itu menekankan bahwa setiap tim harus memiliki mentalitas untuk terus berupaya meningkatkan kualitas permainan mereka agar hasil akhir pertandingan benar-benar berada di tangan mereka sendiri. Ia mendorong para pemainnya untuk tidak terlalu larut dalam kesalahan atau ketidakadilan yang mungkin dilakukan oleh pengadil lapangan. "Saya selalu belajar bahwa Anda harus berbuat lebih baik," ujar Guardiola, mengutip filosofi profesionalismenya.

Guardiola menutup pernyataannya dengan memberikan penekanan pada pentingnya peningkatan kualitas individu dan kolektif secara berkelanjutan. Baginya, hal ini merupakan solusi paling efektif dalam menghadapi ketidakpastian yang seringkali menyertai penerapan teknologi dalam sepak bola modern. Ia berpesan agar setiap pemain dan tim terus berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, demi mengendalikan nasib mereka sendiri di lapangan hijau. "Anda harus berbuat lebih baik dan lebih baik lagi untuk diri sendiri," pungkasnya, menyiratkan bahwa performa superior adalah benteng pertahanan terbaik dari segala bentuk kontroversi.

Also Read

Tags