Ibu kota Pakistan kembali diselimuti duka setelah serangan bom bunuh diri menghantam sebuah masjid Syiah di Islamabad. Ledakan yang terjadi di tengah pelaksanaan salat Jumat itu merenggut sedikitnya 31 nyawa dan menyebabkan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu tragedi paling mematikan yang pernah mengguncang pusat pemerintahan negara tersebut.
Insiden berdarah itu terjadi di Masjid Khadija Tul Kubra yang terletak di kawasan Tarlai Kalan, wilayah tenggara Islamabad. Saat jemaah tengah khusyuk beribadah, ledakan dahsyat memecah ketenangan, seketika mengubah rumah ibadah menjadi lautan kepanikan dan jeritan. Gelombang kejut dari bom tersebut merusak bangunan masjid dan menebarkan puing serta pecahan kaca ke segala arah.
Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar, mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan pengecut yang menyasar warga tak berdosa. Ia menegaskan bahwa serangan terhadap tempat ibadah merupakan pelanggaran berat terhadap nilai kemanusiaan dan ajaran agama.
“Menargetkan tempat ibadah dan warga sipil adalah kejahatan keji terhadap kemanusiaan dan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip Islam. Pakistan bersatu melawan terorisme dalam segala bentuknya,” tulisnya di X.
Sementara itu, aparat keamanan masih terus mengurai detail kejadian. Seorang pejabat polisi senior mengatakan kepada Al Jazeera, dengan syarat anonim, bahwa indikasi awal mengarah pada serangan bunuh diri, meski penyebab pasti ledakan masih dalam tahap pendalaman.
“Tim kami berada di lokasi dan kami sedang dalam proses untuk memastikan penyebabnya,” katanya.
Sumber keamanan lainnya menyampaikan kepada kantor berita AFP, juga dengan identitas dirahasiakan, bahwa pelaku diduga meledakkan dirinya setelah dihentikan di pintu gerbang masjid. Dugaan ini memperkuat indikasi bahwa aksi tersebut dirancang untuk memaksimalkan korban di tengah kerumunan jemaah.
Pemerintah Islamabad menyatakan sedikitnya 169 orang telah dievakuasi ke berbagai rumah sakit setelah tim penyelamat tiba di lokasi kejadian. Rekaman yang beredar di media sosial dan telah diverifikasi Al Jazeera memperlihatkan kondisi mengenaskan di dalam masjid, dengan jasad-jasad berlumuran darah tergeletak di lantai, dikelilingi serpihan bangunan yang hancur akibat ledakan.
Di Institut Ilmu Kedokteran Pakistan, suasana darurat tak kalah mencekam. Wartawan AFP menyaksikan sejumlah korban, baik orang dewasa maupun anak-anak, dibawa masuk menggunakan tandu atau digotong oleh keluarga dan relawan dengan memegang lengan serta kaki mereka. Darah menodai pakaian para korban, menjadi saksi bisu dari keganasan serangan tersebut.
Petugas medis bersama warga sekitar bahu-membahu mengevakuasi korban dari ambulans dan kendaraan pribadi. Beberapa korban bahkan tiba di rumah sakit dengan cara tak lazim, termasuk satu korban yang diangkut menggunakan bagasi mobil. Tangisan dan teriakan keluarga korban pecah di ruang gawat darurat yang dijaga ketat, menciptakan suasana emosional yang mendalam.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan “kesedihan mendalam” atas tragedi yang menimpa warga negaranya. Kecaman juga datang dari komunitas internasional. Duta Besar Inggris untuk Pakistan, Jane Marriott, menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang mengerikan dan tidak berperikemanusiaan.
“Saya sangat marah dan sedih atas serangan mengerikan di Imambargah di Islamabad selama salat Jumat,” katanya. “Doa dan simpati saya bersama mereka yang tewas dan terluka serta keluarga mereka.”
Serangan ini menambah daftar panjang tragedi teror di Islamabad. Pada November tahun lalu, bom bunuh diri meledak di pintu masuk Kompleks Kehakiman Distrik Islamabad, menewaskan 12 orang dan melukai puluhan lainnya. Lebih jauh ke belakang, pada September 2008, sebuah truk pengangkut sampah yang dipasangi bahan peledak diledakkan di Hotel Marriott Islamabad, menewaskan 63 orang dan melukai lebih dari 250 korban.
Rentetan peristiwa tersebut menjadi pengingat pahit bahwa ancaman terorisme masih menjadi bayang-bayang gelap bagi keamanan Pakistan. Serangan di masjid Khadija Tul Kubra bukan hanya menghantam bangunan fisik, tetapi juga melukai rasa aman dan kemanusiaan, meninggalkan luka mendalam bagi para korban dan seluruh bangsa.






