Penderitaan anak-anak di Gaza kini mencapai titik paling memilukan. Situasi kelaparan yang melanda wilayah tersebut membuat bocah-bocah tak hanya kehilangan tenaga untuk bergerak, tetapi bahkan tak lagi mampu meneteskan air mata. Mereka yang biasanya menjadi simbol harapan, kini terbaring lemah tanpa daya, bagai bunga yang layu sebelum sempat mekar.
Hal ini disampaikan oleh Inger Ashing, Kepala badan amal internasional Save the Children, dalam forum Dewan Keamanan PBB yang membahas konflik Israel-Palestina. Menurutnya, krisis pangan di Gaza yang telah dinyatakan PBB bukanlah sekadar istilah teknis, melainkan kenyataan tragis yang merenggut nyawa sedikit demi sedikit.
“Ketika tidak ada cukup makanan, anak-anak menjadi sangat kekurangan gizi, dan kemudian mereka meninggal secara perlahan dan menyakitkan. Secara sederhana, inilah yang dimaksud dengan kelaparan,” kata Ashing.
Tubuh yang Memakan Dirinya Sendiri
Ashing menjelaskan, proses kematian akibat kelaparan berlangsung begitu menyiksa. Dalam beberapa minggu tanpa asupan gizi, tubuh anak-anak pertama-tama menggunakan cadangan lemaknya untuk bertahan hidup. Namun, saat cadangan itu habis, tubuh mulai menghancurkan dirinya sendiri, memakan otot bahkan organ vital untuk sekadar bertahan.
“Namun, klinik kami hampir senyap. Sekarang, anak-anak tidak memiliki kekuatan untuk berbicara atau bahkan menangis kesakitan. Mereka terbaring di sana, kurus kering, benar-benar merana,” lanjutnya.
Deskripsi itu menggambarkan betapa sunyinya ruang-ruang perawatan di Gaza—bukan karena pasien berkurang, tetapi karena tangisan bocah yang biasanya memenuhi udara kini hilang, digantikan kesunyian yang lebih menakutkan dari teriakan apa pun.
Peringatan yang Tak Digubris
Save the Children bersama berbagai lembaga kemanusiaan telah jauh hari memperingatkan bahwa bencana kelaparan akan menimpa Gaza. Namun, aliran bantuan makanan dan kebutuhan pokok dicegah masuk oleh Israel, sehingga memperparah kondisi masyarakat sipil.
“Setiap orang di ruangan ini memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk bertindak menghentikan kekejaman ini,” tegas Ashing.
PBB secara resmi menetapkan Gaza dalam kondisi kelaparan pada Jumat lalu, setelah lebih dari 22 bulan perang menghambat suplai bantuan. Menurut lembaga pemantau krisis pangan Integrated Food Security Phase Classification Initiative (IPC), sekitar 500 ribu warga telah terdampak langsung, termasuk di Kota Gaza.
Laporan IPC juga memproyeksikan bahwa pada akhir September, krisis ini akan meluas hingga menjangkau dua pertiga wilayah Gaza. Namun Israel menolak laporan tersebut dan meminta agar IPC mencabut temuannya, dengan menyebutnya sebagai hasil yang “direkayasa.”
Kecaman Internasional
Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, 14 anggota—kecuali Amerika Serikat, sekutu utama Israel—menyatakan dukungan terhadap laporan IPC. Mereka menegaskan adanya keprihatinan mendalam atas tragedi kelaparan yang kini menjerat warga Gaza.
“Penggunaan kelaparan sebagai senjata perang jelas dilarang berdasarkan hukum kemanusiaan internasional. Kelaparan di Gaza harus segera dihentikan,” bunyi pernyataan bersama itu.
Nestapa yang Membisu
Anak-anak Gaza kini hidup dalam penderitaan yang tak terbayangkan: tubuh mereka mengering, suara tangisnya menghilang, dan harapan mereka kian pudar. Di balik tembok Gaza yang terkepung, tragedi kelaparan bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi jeritan sunyi yang menantang nurani dunia—jeritan yang tak lagi terdengar karena mereka bahkan sudah kehilangan tenaga untuk menangis.