Update Terbaru Evakuasi Pesawat ATR 42-500 di Tebing Gunung

Sahrul

Upaya pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, masih terus berlangsung. Lokasi jatuhnya pesawat berada di wilayah pegunungan yang ibarat dinding alam raksasa—terjal, licin, dan diselimuti cuaca yang kerap berubah tanpa kompromi.

Pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) tersebut dilaporkan hilang kontak saat bersiap mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Sabtu siang (17/1). Di dalamnya terdapat 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang yang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sejak dinyatakan hilang, operasi SAR langsung digelar. Pada Minggu (18/1), tim gabungan menemukan satu korban dalam kondisi meninggal dunia. Pencarian kemudian berlanjut ke hari berikutnya dengan tantangan medan yang semakin berat.

Korban Kedua Ditemukan di Tebing Sedalam 500 Meter

Pada Senin (19/1), kabar terbaru kembali datang dari lereng Bulusaraung. Tim SAR gabungan menemukan satu korban tambahan yang terjatuh di area tebing dengan kedalaman ratusan meter.

“Telah ditemukan satu korban,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii kepada wartawan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar.

Syafii menjelaskan korban ditemukan sekitar pukul 14.00 Wita. Berdasarkan laporan awal dari lapangan, korban tersebut berjenis kelamin perempuan, meski identitasnya belum dapat dipastikan secara resmi.

“Nanti mungkin (identitas korban) persisnya dari DVI, tapi dari informasi awal bahwa korban pertama yang kita temukan berjenis kelamin laki-laki dan kedua informasi yang kita dapatkan berjenis kelamin perempuan,” bebernya.

Korban kedua ini ditemukan di area tebing yang sangat curam, dengan jarak vertikal mencapai sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Kondisi lokasi tersebut membuat setiap langkah evakuasi harus dihitung dengan presisi tinggi.

Mesin Pesawat Ditemukan di Tengah Cuaca Ekstrem

Selain pencarian korban, tim SAR juga terus menyisir puing-puing pesawat. Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono mengungkapkan kronologi penemuan mesin pesawat ATR 42-500 oleh personel TNI AD yang tergabung dalam tim SAR gabungan.

Mesin pesawat ditemukan pada Minggu (18/1) setelah tim menelusuri kaki gunung hingga area yang diperkirakan menjadi titik jatuh pesawat. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Alam seakan menguji ketahanan fisik dan mental para personel.

“Sejak pagi hari, operasi dilaksanakan di tengah kondisi angin kencang yang berkisar hingga 20-22 knot, visibilitas terbatas sampai 5 meter, kabut tebal yang turun sejak pukul 08.30 WITA, disertai hujan di siang hari,” kata Donny dalam siaran pers resmi, seperti dilansir Antara, Senin (19/1).

Meski dihadang kabut tebal dan jalur menanjak yang berbahaya, personel TNI AD dari Kodam XIV/Hasanuddin dan Divisi Infanteri 3 Kostrad tetap melanjutkan misi pencarian. Mereka dibekali teknologi modern untuk menembus keterbatasan alam.

“Kami mengerahkan drone, Night Vision Goggle (NVG), GPS , sistem komunikasi Starlink, radio taktis, kendaraan taktis, motor trail, hingga perlengkapan khusus seperti gergaji listrik dan alat mountaineering,” jelas Donny.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada pukul 08.37 Wita, dua bagian utama pesawat ditemukan. Menjelang malam, mesin pesawat, serpihan penting, serta Emergency Locator Transmitter (ELT) berhasil dilokalisasi.

“Pencarian berlanjut hingga sore hari dengan ditemukannya mesin pesawat, berbagai serpihan penting, serta Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat pada pukul 19.04 Wita,” kata Donny.

Di sekitar ekor pesawat, petugas juga menemukan satu bagian tubuh korban berjenis kelamin laki-laki.

“Evakuasi dilakukan secara bertahap melalui jalur darat dengan mengutamakan keselamatan personel, mengingat medan terjal dan kondisi cuaca yang terus berubah,” jelas Donny.

Jalur Darat Jadi Satu-satunya Pilihan Evakuasi

Seiring memburuknya kondisi cuaca, tim SAR memastikan proses evakuasi korban ATR 42-500 hanya dapat dilakukan melalui jalur darat. Rencana penggunaan helikopter harus ditunda karena kabut tebal yang menutup kawasan pegunungan.

“Namun karena kondisi cuaca sehingga misi (menggunakan helikopter) tersebut belum bisa kita laksanakan. Saat ini kita berupaya unsur darat mendekat ke sana,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii dilansir detikSulsel, Senin (19/1).

Syafii menjelaskan sebenarnya jarak tempuh dari Bandara Sultan Hasanuddin ke lokasi kejadian kurang dari 10 menit menggunakan jalur udara. Namun realitas di lapangan membuat rencana tersebut tak memungkinkan.

Ia menyebut jarak antara titik jatuh pesawat dan lokasi ditemukannya bagian tubuh korban mencapai lebih dari 500 meter, dipisahkan jurang dan lereng curam yang berbahaya.

“Jadi antara body part terjauh di satu dengan body part yang lain dengan yang diduga titik jatuhnya pesawat itu lebih dari 500 meter. Sehingga dari situ dengan keterjalannya, kemiringan yang ada kemudian ke bawah itu yang di atas itu terbuka,” kata dia.

“Pada saat ke bawah berubah hutan-hutan dengan kedalaman yang agak ekstrem. Dan itu yang sebenarnya kita hadapi,” tambahnya.

Upaya evakuasi korban pertama sempat terkendala ketika tali yang digunakan tersangkut batu di kedalaman sekitar 200 meter. Demi keselamatan, tim memutuskan menurunkan kembali jenazah dan mendirikan kamp sementara di lokasi.

Barang Pribadi Korban Jadi Titik Terang

Di tengah beratnya medan dan lambannya evakuasi, tim SAR gabungan menemukan sejumlah barang pribadi milik korban. Temuan ini dinilai sebagai secercah cahaya di tengah operasi yang penuh risiko.

“Penemuan barang-barang milik korban dan bagian dari pesawat menunjukkan bahwa tim SAR gabungan sudah berada sangat dekat dengan titik-titik krusial,” kata Syafii dikutip detikSulsel, Senin (19/1).

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar merinci barang-barang yang ditemukan di jalur ekstrem tersebut.

“Tim SAR gabungan menemukan berbagai barang yang diduga milik korban, mulai dari dokumen pribadi, dompet, buku catatan, hingga barang elektronik,” ujar Arif.

Selain barang korban, petugas juga menemukan sejumlah bagian pesawat seperti pelampung dan fire signal di sekitar kepala pesawat. Seluruh temuan telah diamankan, dicatat, dan diberi titik koordinat sesuai prosedur.

“Medan di lokasi kejadian sangat curam dan berisiko tinggi. Proses pencarian dilakukan dengan teknik khusus, termasuk repling dan pembukaan jalur, sehingga membutuhkan waktu, ketelitian, dan koordinasi yang kuat antarunsur,” imbuhnya.

Operasi evakuasi masih terus berlanjut. Di tengah kabut dan tebing yang menjulang, setiap langkah tim SAR menjadi pertaruhan antara kecepatan, ketelitian, dan keselamatan.

Also Read

Tags