Pergeseran lanskap otomotif nasional kian tak terhindarkan. Mobil bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE), yang selama ini menjadi tulang punggung industri kendaraan, diprediksi akan menghadapi tekanan penjualan yang semakin kuat dalam beberapa tahun mendatang. Sebaliknya, kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) diperkirakan akan merajai pasar, menandai era baru mobilitas.
Fenomena ini, menurut pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, didorong oleh dua faktor utama: antusiasme masyarakat yang terus meningkat terhadap mobil listrik dan rencana pemerintah untuk meluncurkan serangkaian insentif baru bagi kendaraan ramah lingkungan pada pertengahan tahun ini. Yannes menekankan bahwa kombinasi kedua faktor ini akan memberikan pukulan telak bagi segmen mobil entry-level yang masih mengandalkan mesin konvensional, terutama segmen mobil murah atau Low Cost Green Car (LCGC).
"Kita akan melihat penurunan pangsa pasar yang signifikan secara bertahap pada segmen mobil konvensional kelas awal, termasuk LCGC. Ini sejalan dengan upaya untuk membuat harga BEV menjadi lebih terjangkau," ujar Yannes dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa selain dorongan dari insentif kendaraan listrik, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan suku bunga kredit kendaraan yang tinggi turut menggerus daya tarik mobil penumpang bermesin ICE.
Namun, tantangan terbesar dari transisi ini tidak hanya berhenti pada konsumen. Industri rantai pasok lokal dan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang selama ini menjadi pemasok komponen untuk mesin konvensional akan merasakan dampak terberat. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan yang tinggi pada impor untuk komponen utama kendaraan listrik. Yannes memperingatkan bahwa akselerasi transisi yang terlalu cepat tanpa strategi perlindungan yang matang dapat mengancam ekosistem manufaktur lokal yang telah lama menopang industri otomotif konvensional.
"Transisi yang terlalu agresif tanpa perencanaan matang berisiko melemahkan industri manufaktur dalam negeri yang selama ini menjadi penopang utama industri mobil ICE," jelasnya. Oleh karena itu, Yannes menyarankan agar pemerintah dan para pelaku industri mengadopsi pendekatan transisi yang lebih realistis dan fleksibel. Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah melalui pendekatan multi-pathway, yang salah satunya dapat difokuskan pada pengembangan dan promosi kendaraan hybrid electric vehicle (HEV).
Menurut Yannes, pemberian insentif yang berbasis pada Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk mobil hybrid yang dirakit di lokal dapat menjadi solusi strategis. Hal ini tidak hanya membantu menekan harga jual kendaraan, tetapi juga dapat menjaga kelangsungan volume produksi dan menyerap tenaga kerja domestik. "Transisi bertahap selama dua hingga tiga tahun sangat penting untuk memastikan rantai pasok lokal tetap bertahan dan terus memberikan kontribusi positif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional," tegasnya.
Data terbaru dari periode Januari hingga April 2026 menunjukkan tren yang jelas. Pasar mobil listrik berbasis baterai (BEV) mengalami pertumbuhan pesat, dengan lonjakan penjualan mencapai 89,4 persen secara tahunan. Dari 25.231 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya, penjualan BEV melonjak menjadi 47.781 unit. Di sisi lain, segmen LCGC justru mengalami kontraksi yang cukup tajam. Dalam kurun waktu yang sama, penjualan LCGC dilaporkan menurun sekitar 25 persen, dari 50.416 unit menjadi hanya 37.823 unit jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Perkembangan ini menegaskan bahwa era mobil listrik bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan yang akan membentuk masa depan industri otomotif Indonesia. Pergeseran preferensi konsumen, didukung oleh kebijakan pemerintah yang semakin berpihak pada teknologi hijau, akan mendorong inovasi dan investasi lebih lanjut dalam ekosistem kendaraan listrik. Namun, penting untuk memastikan bahwa transisi ini dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan, sehingga tidak meninggalkan sektor-sektor industri pendukung yang selama ini telah berkontribusi pada perekonomian nasional. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat bertransformasi menjadi pemimpin dalam mobilitas ramah lingkungan di kawasan.






