Bentrok Klasik Terpaksa Pindah, Panpel Persija Singgung Penjadwalan Laga

Tommy Welly

Kekecewaan mendalam dirasakan oleh kubu Persija Jakarta. Laga kandang melawan rival bebuyutan, Persib Bandung, yang sedianya digelar di ibu kota pada 10 Mei 2026, urung terlaksana. Keputusan ini diambil setelah pihak keamanan tidak memberikan izin dengan alasan pertimbangan keamanan yang matang. Setelah melalui serangkaian diskusi dan evaluasi, laga akbar ini akhirnya dijadwalkan ulang dan akan dilangsungkan di Stadion Segiri, Samarinda. Meskipun lokasi pertandingan berubah, jadwal pertandingan dan waktu kick-off dipastikan tidak mengalami penyesuaian.

Ferry Indrasjarief, selaku Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persija Jakarta, mengungkapkan rasa frustrasinya atas keputusan pemindahan kandang ini. Ia menyoroti bahwa Persija telah lama merindukan kesempatan untuk menjamu Persib di tanah Jakarta. Lebih lanjut, Ferry menekankan bahwa The Jakmania, kelompok suporter Persija, telah menunjukkan perkembangan positif dalam menjaga ketertiban dan perilaku selama pertandingan sepanjang musim ini. Upaya kolaboratif antara panitia dan suporter untuk menciptakan atmosfer yang kondusif diklaim telah membuahkan hasil yang signifikan, mengurangi potensi insiden negatif yang dapat meresahkan otoritas liga maupun induk sepak bola nasional, PSSI.

Menurut Ferry, perjalanan Persija di kompetisi musim ini terbilang minim dari permasalahan berarti yang dapat menimbulkan kekhawatiran. Ia merasa bahwa segala upaya perbaikan yang telah dilakukan oleh pihaknya bersama suporter belum sepenuhnya diperhitungkan dalam pengambilan keputusan terkait izin pertandingan. "Sungguh sangat mengecewakan. Padahal kami telah bekerja keras bersama The Jakmania untuk menampilkan citra suporter yang jauh lebih baik," ujar Ferry dalam keterangannya di Mabes Polri, Jakarta, pada hari Rabu (6/5/2026). Ia menambahkan, "Secara umum, musim ini hampir tidak ada peristiwa yang signifikan yang dapat membuat PSSI atau operator liga merasa cemas." Pernyataan ini mengindikasikan adanya rasa ketidakadilan lantaran upaya positif yang telah ditunjukkan seolah terabaikan.

Lebih jauh lagi, Ferry Indrasjarief tidak segan melontarkan kritik terkait sistem penjadwalan kompetisi yang diterapkan oleh operator liga, I.League. Ia berharap agar operator dapat merancang kalender pertandingan yang lebih strategis dan meminimalisir potensi gesekan dengan agenda-agenda nasional yang bersifat krusial. Penempatan laga-laga besar, terutama pertandingan antara dua tim dengan rivalitas tinggi seperti Persija dan Persib, seyogianya dihindari pada periode-periode sensitif yang berpotensi menimbulkan kerawanan. Ferry secara spesifik menyinggung momen pasca perayaan Hari Buruh atau May Day, yang kerapkali menjadi salah satu faktor pertimbangan aparat kepolisian dalam mengeluarkan izin keramaian.

"Kami sangat berharap di masa mendatang, jadwal pertandingan, khususnya yang melibatkan Persija melawan Persib, tidak akan ditempatkan pada masa-masa genting seperti ini," tegas Ferry. Ia menggarisbawahi bahwa pemilihan waktu pertandingan yang tidak tepat dapat memberikan beban tambahan bagi aparat keamanan dan juga menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu. Perlu dipahami bahwa pertandingan antara Persija dan Persib selalu menyita perhatian publik yang sangat besar, tidak hanya dari kalangan suporter kedua tim, tetapi juga masyarakat luas. Intensitas pertemuan kedua tim ini seringkali berbanding lurus dengan potensi kerumunan massa yang besar, sehingga memerlukan perencanaan keamanan yang ekstra ketat.

Ferry juga menyiratkan bahwa keputusan pemindahan pertandingan ini bukan hanya sekadar soal keamanan semata, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana operator liga mengelola jadwal agar tidak menimbulkan konflik kepentingan atau kerumitan administratif. Ia berpendapat bahwa dengan penempatan jadwal yang lebih cermat, potensi masalah seperti ini dapat dihindari. Pertandingan kandang di Jakarta adalah sebuah nilai tambah bagi Persija, baik dari segi revenue maupun kebanggaan suporter yang berkesempatan menyaksikan tim kesayangannya berlaga di stadion kebanggaan. Kehilangan kesempatan tersebut tentu menjadi pukulan tersendiri.

Lebih lanjut, Ferry mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, untuk memastikan bahwa segala persiapan telah dilakukan secara matang demi terselenggaranya pertandingan yang aman dan tertib di Jakarta. Namun, keputusan akhir yang dikeluarkan oleh pihak berwenang tetap tidak memungkinkan hal tersebut. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Tapi, keputusan tetaplah keputusan," tuturnya dengan nada pasrah. Ia berharap, agar di masa mendatang, komunikasi antara panitia pelaksana, operator liga, PSSI, dan pihak kepolisian dapat terjalin lebih erat dan terintegrasi dalam proses pengambilan keputusan, sehingga insiden serupa dapat diminimalisir.

Penjadwalan yang lebih baik diharapkan dapat memberikan kepastian bagi semua pihak yang terlibat dalam kompetisi, mulai dari klub, pemain, pelatih, suporter, hingga sponsor. Ketidakpastian jadwal dapat mengganggu persiapan tim, strategi pelatih, dan bahkan aspek komersial. Oleh karena itu, masukan dari panitia pelaksana seperti Ferry Indrasjarief menjadi krusial untuk perbaikan sistem persepakbolaan Indonesia di masa mendatang. Kekecewaan kali ini, diharapkan dapat menjadi pembelajaran berharga bagi semua pemangku kepentingan demi kemajuan sepak bola nasional yang lebih baik.

Also Read

Tags