Gelombang Penjualan Mobil Diesel Bekas Meningkat Pasca Kenaikan Harga Solar

Ridwan Hanif

Pasar mobil bekas di Indonesia sedang merasakan getaran signifikan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak jenis solar yang mulai berlaku sejak Selasa, 12 Mei 2026. Fenomena ini memicu gelombang pelepasan unit kendaraan bermesin diesel, baik dari kalangan pedagang maupun pemilik pribadi, yang secara otomatis menurunkan harga jual di pasaran.

Para pemain di sektor mobil bekas melaporkan adanya peningkatan stok kendaraan diesel, terutama untuk model-model populer seperti Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner yang notabene merupakan kendaraan keluaran tahun muda. Zidan, perwakilan dari Salman Auto Mobilindo, menjelaskan bahwa lonjakan pasokan ini terjadi bersamaan dengan surutnya permintaan. Kondisi ini, menurutnya, memaksa para pedagang untuk melakukan penyesuaian harga ke bawah. Ia menambahkan bahwa tidak hanya pedagang, namun banyak pula pemilik langsung yang mulai menawarkan kendaraan mereka. Hal ini terlihat jelas dari aktivitas di berbagai grup komunitas otomotif yang didominasi oleh postingan penjualan mobil diesel.

Fenomena ini diperkirakan telah menekan harga jual mobil diesel bekas hingga sekitar sepuluh persen. Namun, para pedagang kini memilih untuk berhati-hati dalam menambah koleksi stok mereka. Kekhawatiran utama adalah risiko perputaran modal yang melambat. Zidan menekankan bahwa dalam situasi seperti ini, fokus beralih pada kendaraan yang masih memiliki daya tarik kuat di mata konsumen, bukan sekadar menambah kuantitas stok. Ia mengutarakan, "Untuk apa menambah stok jika penjualan melambat? Kami lebih memilih mobil yang permintaannya tetap tinggi."

Sentimen serupa juga diungkapkan oleh Rudy dari Hapsari Mobil. Ia mengaku bahwa keberanian para pedagang untuk mengakuisisi stok mobil diesel bekas mengalami penurunan drastis. Bahkan, unit keluaran terbaru yang sebelumnya sangat diminati pun kini membuat mereka berpikir dua kali. Rudy mencontohkan, sebuah unit yang biasanya dihargai sekitar Rp 300 jutaan, kini ketika ditawarkan kembali dengan harga yang sama, pihak Hapsari Mobil enggan mengambilnya. Ia bahkan menyatakan bahwa dulu mereka masih berani mengakuisisi Pajero Sport keluaran 2016 hingga 2018, namun kini untuk unit tahun 2023 pun mereka masih ragu. Ketidakpastian pasar ini membuat para pelaku usaha memilih untuk bersikap menahan diri, terutama jika harga penawaran dari penjual dirasa masih terlalu tinggi dibandingkan dengan minat pasar yang sedang lesu.

Singgih, pemilik Willies Mobil di Depok, juga merasakan perubahan perilaku konsumen yang mulai terasa sejak fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar terjadi. Ia menyoroti sulitnya menjual unit Chevrolet Captiva bermesin diesel, meskipun usianya tergolong sudah cukup tua. Menurut Singgih, beberapa bulan lalu masih ada saja konsumen yang menanyakan ketersediaan unit tersebut, namun kini, di bulan ini, sudah hampir tidak ada lagi yang mencari mobil diesel.

Sentimen negatif terhadap kenaikan harga BBM ini terus membayangi keputusan konsumen, terlepas dari fakta bahwa banyak unit diesel generasi lama yang sebenarnya masih kompatibel menggunakan Biosolar. Kekhawatiran akan membengkaknya biaya operasional menjadi faktor utama yang menghambat transaksi pembelian. Singgih menjelaskan bahwa meskipun mobil diesel tahun 2010 masih dapat menggunakan Biosolar, konsumen kini dibayangi rasa takut akan dampak kenaikan harga BBM secara keseluruhan.

Penurunan harga jual yang konkret telah dialami oleh stok yang tersedia di showroom milik Singgih. Sebuah unit yang sebelumnya ia tawarkan di kisaran Rp 90 juta, bahkan sempat menyentuh angka Rp 95 juta, kini terpaksa dipangkas hingga Rp 85 juta demi menarik perhatian calon pembeli. Penyesuaian harga ini menjadi bukti nyata bagaimana kebijakan pemerintah terkait harga BBM dapat secara langsung memengaruhi dinamika pasar otomotif, khususnya pada segmen kendaraan diesel bekas.

Also Read

Tags