Kebangkitan The Black Cats: Sunderland Permalukan Everton di Kandang Sendiri

Tommy Welly

Minggu, 17 Mei 2026, menjadi saksi bisu sebuah kebangkitan yang dramatis di Liga Primer Inggris. Stadion Hill Dickinson, yang seharusnya menjadi benteng kokoh bagi Everton, justru bergetar oleh kemenangan gemilang Sunderland. Dalam pertandingan lanjutan pekan ke-37, tim berjuluk The Black Cats ini berhasil mengukir kemenangan 3-1, membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal lebih dulu. Hasil ini bukan sekadar tiga poin tambahan, melainkan sebuah bukti ketangguhan mental dan taktik brilian di bawah arahan Regis Le Bris.

Kemenangan ini memberikan nafas lega bagi kubu Sunderland. Empat pertandingan sebelumnya tanpa kemenangan sempat menghadirkan bayangan keraguan, namun duel kontra Everton membuktikan bahwa mentalitas juara masih bersemayam kuat dalam diri para pemain. Berbeda dengan Everton, yang diasuh oleh David Moyes, kekalahan ini justru menambah panjang daftar rentetan hasil minor mereka. Enam pertandingan terakhir di liga tanpa merasakan manisnya kemenangan menjadi catatan kelam yang terus menghantui The Toffees.

Awal pertandingan sejatinya berjalan sesuai skenario Everton. Agresi dan determinasi tinggi sejak menit awal membuahkan hasil positif. Pada menit ke-43, Merlin Roehl berhasil memecah kebuntuan, mengubah papan skor menjadi 1-0 untuk keunggulan tuan rumah. Gol ini tercipta berkat assist apik dari Michael Keane, yang sebelumnya menerima umpan silang dari Vitaliy Mykolenko. Keunggulan satu gol di babak pertama seolah memberikan kepercayaan diri bagi Everton untuk melanjutkan dominasi mereka.

Namun, babak kedua menghadirkan cerita yang berbeda. Sunderland bangkit dengan semangat juang yang membara dan menampilkan performa klinis dalam memanfaatkan setiap peluang. Melalui skema serangan balik cepat yang mematikan, Brian Brobbey berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-59. Umpan matang dari Enzo Le Fee dalam sebuah transisi cepat mengubah momentum pertandingan secara drastis. Gol penyama kedudukan ini seolah menjadi titik balik yang membangkitkan gairah para pemain Sunderland.

Pelatih Regis Le Bris menunjukkan kejeliannya dalam mengambil keputusan strategis. Pada menit ke-77, ia melakukan tiga pergantian pemain sekaligus dengan memasukkan Chris Rigg, Wilson Isidor, dan Habib Diarra. Keputusan ini terbukti menjadi kunci kemenangan. Kehadiran para pemain pengganti memberikan energi baru dan sentuhan magis di lini serang. Pada menit ke-81, Enzo Le Fee berhasil mencatatkan namanya di papan skor, membawa Sunderland unggul 2-1. Gol ini tercipta berkat assist brilian dari Chris Rigg, yang mampu melihat pergerakan tanpa bola Le Fee di area pertahanan Everton.

Pesta gol Sunderland ditutup dengan indah di masa-masa akhir pertandingan. Pada menit ke-91, Wilson Isidor, salah satu pemain pengganti yang dimasukkan Le Bris, sukses mengunci kemenangan meyakinkan 3-1. Gol ketiga ini tercipta setelah ia menerima umpan terukur dari Habib Diarra, yang juga merupakan pemain pengganti. Gol penutup ini menjadi penegas superioritas Sunderland di babak kedua dan memberikan pukulan telak bagi Everton.

Kemenangan krusial ini menempatkan Sunderland di posisi ke-9 klasemen sementara Liga Primer Inggris dengan mengumpulkan 51 poin dari 37 pertandingan. Mereka kini hanya terpaut satu angka dari Brentford yang berada di posisi ke-8, sebuah posisi yang krusial untuk mengamankan tiket ke kompetisi Eropa. Sementara itu, Everton harus puas tertahan di peringkat ke-12 dengan koleksi 49 poin, semakin menjauh dari impian bermain di kancah Eropa musim depan. Persaingan di papan atas klasemen semakin memanas, dan Sunderland kini menjadi salah satu tim yang patut diperhitungkan dalam perebutan jatah Eropa.

Perlu dicatat bahwa Everton harus kehilangan beberapa pemain kunci mereka akibat cedera, yaitu Idrissa Gana Gueye, Jack Grealish, dan Jarrad Branthwaite. Absennya mereka tentu memberikan dampak signifikan pada kekuatan tim. Di sisi lain, Sunderland juga tidak tampil dengan kekuatan penuh, dengan absennya Bertrand Traore dan Romaine Mundle karena cedera, serta Daniel Ballard yang terkena skorsing. Namun, dengan kedalaman skuad yang dimiliki, Sunderland mampu mengatasi kekurangan tersebut dan menunjukkan performa yang luar biasa.

Dalam pertandingan ini, Everton menurunkan formasi 4-4-1-1 dengan mengandalkan Jordan Pickford di bawah mistar gawang, didukung oleh Jake O’Brien, James Tarkowski, Michael Keane, dan Vitaliy Mykolenko di lini pertahanan. Lini tengah diisi oleh Tim Iroegbunam, James Garner, Merlin Rohl, dan Kiernan Dewsbury-Hall, sementara Iliman Ndiaye berperan sebagai gelandang serang di belakang striker tunggal, Beto.

Menghadapi taktik Everton, Sunderland merespons dengan formasi 4-2-3-1. Robin Roefs dipercaya menjaga gawang, dengan kuartet Lutsharel Geertruida, Nordi Mukiele, Omar Alderete, dan Reinildo Mandava di lini belakang. Granit Xhaka dan Noah Sadiki bertugas sebagai jangkar di lini tengah, sementara Trai Hume, Enzo Le Fee, dan Nilson Angulo menjadi trio penyerang di belakang striker utama, Brian Brobbey. Pertarungan taktik antara kedua pelatih pun menjadi salah satu elemen menarik dalam pertandingan ini.

Secara keseluruhan, kemenangan Sunderland atas Everton ini bukan hanya sekadar hasil pertandingan, melainkan sebuah narasi tentang ketahanan, strategi cerdas, dan determinasi yang tak kenal lelah. The Black Cats membuktikan bahwa mereka mampu bangkit dari keterpurukan dan kembali bersaing di papan atas klasemen. Duel ini juga menyoroti betapa kompetitifnya Liga Primer Inggris, di mana setiap pertandingan menyimpan potensi kejutan dan perubahan dramatis. Bagi Everton, kekalahan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi David Moyes untuk segera menemukan solusi dan mengembalikan performa tim ke jalur yang benar.

Also Read

Tags