Mahalnya Perjalanan Menuju Piala Dunia 2026: Suporter Merasa Tercekik Biaya Transportasi di Amerika Serikat

Tommy Welly

Gelombang kekecewaan menyelimuti para penggemar sepak bola yang berencana menyaksikan langsung kemeriahan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Tuan rumah bersama, terutama dua kota penyelenggara, kini menjadi sasaran kritik tajam atas penetapan tarif transportasi yang dinilai selangit bagi para suporter yang hendak menuju stadion pertandingan. Situasi ini memunculkan tudingan bahwa penyelenggara mencoba mengeruk keuntungan berlebih dari para penggemar setia.

Salah satu pusat perhatian utama adalah New Jersey, yang diberitakan menetapkan biaya tiket pulang-pergi sebesar 150 dolar AS, atau setara dengan Rp2,4 juta, bagi siapa saja yang memiliki tiket pertandingan dan berangkat dari Penn Station, New York, menuju MetLife Stadium. Angka ini sungguh mencengangkan jika dibandingkan dengan tarif normal untuk perjalanan serupa dalam rangka acara konser atau pertandingan olahraga lainnya, yang umumnya hanya berkisar 12,90 dolar AS. MetLife Stadium sendiri memegang peran strategis sebagai salah satu arena utama yang akan menggelar delapan pertandingan, termasuk laga puncak prestisius Piala Dunia 2026.

Kritik tidak hanya berhenti di New Jersey. Boston pun turut menjadi sorotan karena kebijakan kenaikan harga tiket kereta api menuju Gillette Stadium. Jika biasanya para suporter hanya perlu merogoh kocek sekitar 20 dolar AS untuk sekali jalan, kini tarif tersebut melonjak drastis menjadi 80 dolar AS selama periode turnamen berlangsung.

Ronan Evain, direktur eksekutif dari kelompok suporter Football Supporters Europe, menyuarakan keprihatinannya dengan menyatakan bahwa lonjakan harga ini adalah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menambahkan bahwa para suporter di Boston dan New Jersey kini tengah giat mencari alternatif transportasi lain untuk menghindari beban finansial yang berlebihan. Pernyataan Evain ini, seperti dilaporkan oleh Financial Review, menyoroti betapa tingginya biaya yang harus ditanggung oleh para penggemar.

Protes atas mahalnya biaya transportasi ini semakin memperkuat kekhawatiran yang sudah lama beredar, bahwa Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi ajang yang semakin sulit dijangkau oleh suporter umum. Muncul persepsi bahwa turnamen ini hanya akan dinikmati oleh kalangan yang memiliki kemampuan finansial lebih. Kelompok-kelompok suporter internasional memang telah berbulan-bulan menyuarakan keluhan mengenai kenaikan biaya yang terus membengkak, mulai dari harga tiket pertandingan, biaya akomodasi, hingga ongkos transportasi lokal.

Bagi mereka yang memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai MetLife Stadium, beban finansial tidak serta merta berkurang. Biaya parkir di kawasan American Dream Mall yang berdekatan saja dipatok minimal 225 dolar AS atau sekitar Rp3,7 juta. Sementara itu, opsi menggunakan layanan antar-jemput resmi pun tidak kalah mahal, yaitu 80 dolar AS atau Rp1,32 juta.

Pemerintah New Jersey berusaha melepaskan diri dari tudingan sebagai pihak yang memberlakukan tarif tinggi. Mereka menyalahkan FIFA, badan sepak bola dunia, atas mahalnya ongkos transportasi tersebut. Gubernur New Jersey, Mikie Sherrill, menyatakan bahwa pihaknya mewarisi kesepakatan di mana FIFA tidak memberikan subsidi apa pun untuk mobilisasi suporter. Ia mengklaim bahwa FIFA tidak mengeluarkan dana sepeser pun untuk transportasi Piala Dunia, sementara NJ Transit harus menanggung beban operasional sebesar 48 juta dolar AS demi memastikan kelancaran dan keamanan transportasi bagi para penggemar. Sherrill secara tegas menyampaikan di platform X bahwa sementara FIFA meraup keuntungan fantastis senilai 11 miliar dolar AS, kontribusi mereka untuk transportasi suporter adalah nol.

Namun, FIFA membantah keras tudingan tersebut dan mengaku terkejut dengan pernyataan sang gubernur. Federasi sepak bola dunia itu mengklarifikasi bahwa mereka telah memperbarui kesepakatan pada tahun 2023. Dalam pembaruan tersebut, kota-kota tuan rumah diberikan keleluasaan untuk menyediakan layanan transportasi sesuai dengan biaya operasional yang berlaku, dengan tujuan untuk mengurangi beban finansial yang ditanggung oleh FIFA. Kebijakan ini, menurut FIFA, diharapkan dapat memberikan fleksibilitas bagi kota penyelenggara dalam mengelola anggaran transportasi mereka.

Perbedaan pandangan antara FIFA dan pemerintah New Jersey ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai transparansi dan pembagian tanggung jawab dalam penyelenggaraan acara olahraga berskala internasional. Suporter, sebagai elemen krusial yang menopang kemeriahan setiap turnamen, merasa terbebani oleh kenaikan biaya yang signifikan. Harapan mereka adalah agar penyelenggaraan Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi pesta bagi tim-tim peserta dan sponsor, tetapi juga dapat diakses dan dinikmati oleh seluruh lapisan penggemar sepak bola, tanpa terkendala oleh masalah finansial yang berlebihan. Kisruh mengenai biaya transportasi ini menjadi catatan penting yang perlu menjadi perhatian serius bagi penyelenggara di masa mendatang, demi menjaga semangat inklusivitas dalam dunia olahraga.

Also Read

Tags