Stylo 160 ABS: Performa Menjanjikan, Fitur Krusial Justru Terlewat

Ridwan Hanif

Honda Stylo 160, sebuah skutik retro yang dinanti, hadir dengan klaim menawarkan teknologi dan gaya yang memikat. Namun, di balik tampilan premiumnya, terutama pada varian ABS yang dibanderol lebih tinggi, tersembunyi sebuah ironi fungsional. Konsumen yang merogoh kocek lebih dalam untuk varian teratas ini justru harus merelakan absennya sebuah fitur yang kerap dianggap esensial bagi pengendara komuter: pengunci rem belakang. Sebuah keputusan desain yang menimbulkan pertanyaan tentang prioritas fitur pada segmen harga premium.

Perbandingan harga antara varian ABS dan CBS memang cukup signifikan. Varian ABS dilepas ke pasar dengan banderol Rp 32.436.000 untuk pilihan warna standar, dan merangkak naik menjadi Rp 33.936.000 untuk edisi Special Burgundy. Sementara itu, varian CBS hadir dengan harga yang lebih ramah di kantong, mulai dari Rp 29.445.000, menawarkan pilihan warna seri Glam yang elegan. Selisih harga sekitar Rp 3 jutaan ini, bagi sebagian konsumen, mungkin diasumsikan akan berbanding lurus dengan kelengkapan fitur yang ditawarkan. Namun, kenyataannya justru berbeda.

Fitur yang dimaksud adalah Parking Brake Lock (PBL) atau pengunci tuas rem belakang. Fitur ini sangat vital ketika pengendara harus memarkirkan kendaraan di area yang tidak datar, seperti tanjakan atau turunan. Dengan mengaktifkan PBL, rem belakang akan terkunci, mencegah motor meluncur secara tidak sengaja. Keberadaan fitur ini pada varian CBS yang notabene lebih terjangkau, sementara absen pada varian ABS yang lebih mahal, menciptakan sebuah anomali yang patut dipertimbangkan oleh calon pembeli.

Honda sendiri memberikan penjelasan teknis di balik absennya PBL pada varian ABS. Alasan utamanya adalah penerapan sistem rem cakram pada roda belakang varian ABS. Sistem rem hidrolik yang menggunakan minyak rem, menurut pabrikan, memiliki kompleksitas tersendiri yang membuatnya sulit untuk diintegrasikan dengan mekanisme pengunci tuas rem mekanis sederhana. Proses rekayasa untuk memasang perangkat pengunci pada tuas rem hidrolik membutuhkan solusi yang lebih rumit dan berpotensi memengaruhi performa sistem rem itu sendiri. Berbeda dengan varian CBS yang masih mengandalkan rem tromol di bagian belakang. Sistem rem tromol, yang bekerja dengan mekanisme tarikan kabel, lebih fleksibel untuk diaplikasikan pengunci tuas rem mekanis pada pangkal tuas rem kiri. Fleksibilitas inilah yang memungkinkan fitur PBL hadir pada varian CBS.

Meskipun demikian, keputusan untuk mengorbankan fitur fungsional ini pada varian termahal menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai strategi Honda dalam menentukan kelengkapan fitur untuk setiap segmen harga. Apakah prioritasnya lebih pada aspek estetika dan teknologi pengereman canggih, ataukah fungsionalitas harian yang sederhana namun krusial?

Menariknya, keputusan penggunaan rem cakram di belakang pada varian ABS, yang berujung pada absennya PBL, ternyata membawa "berkah" tersembunyi bagi varian CBS. Penggunaan rem tromol dan ketiadaan modul ABS pada roda belakang membuat varian CBS memiliki bobot yang lebih ringan. Dengan berat kosong 115 kg, varian CBS lebih ringan 3 kg dibandingkan varian ABS. Pengurangan bobot ini, meskipun terkesan minor, memberikan kontribusi signifikan terhadap kelincahan dan responsivitas skutik.

Mesin 156,9 cc yang mampu menyemburkan tenaga 15,2 HP pada varian CBS, ketika dipadukan dengan bobot yang lebih ringan, menciptakan rasio tenaga terhadap bobot yang lebih optimal. Hal ini secara langsung berdampak pada performa skutik dalam lalu lintas perkotaan yang seringkali padat dan menuntut kelincahan bermanuver. Akselerasi yang lebih responsif saat beradu dengan kemacetan atau saat menyalip kendaraan lain menjadi nilai tambah yang tidak bisa diabaikan. Varian CBS, dengan bobotnya yang lebih ringan dan lincahnya, seolah menawarkan pengalaman berkendara yang lebih gesit untuk navigasi perkotaan yang dinamis.

Dengan demikian, calon konsumen dihadapkan pada dilema menarik. Varian ABS menawarkan teknologi pengereman yang lebih canggih dengan sistem cakram di kedua rodanya, namun harus rela tanpa fitur pengunci rem belakang. Di sisi lain, varian CBS, meskipun tidak dibekali sistem rem cakram belakang dan ABS, justru menawarkan keunggulan dalam hal bobot yang lebih ringan dan kelincahan yang superior, serta tetap mempertahankan fitur PBL yang praktis.

Pilihan antara varian ABS dan CBS pada Honda Stylo 160 menjadi sebuah studi kasus menarik dalam strategi penentuan fitur otomotif. Apakah konsumen lebih memprioritaskan teknologi pengereman yang lebih modern meskipun ada fitur fungsional yang dikorbankan, ataukah mereka lebih memilih kepraktisan dan kelincahan yang ditawarkan oleh varian yang lebih terjangkau? Pertanyaan ini akan terus menjadi bahan pertimbangan bagi para pencari skutik bergaya retro yang menginginkan lebih dari sekadar tampilan. Honda Stylo 160, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, telah berhasil memicu diskusi menarik di kalangan pecinta otomotif mengenai apa yang sebenarnya dicari konsumen dari sebuah kendaraan premium.

Also Read

Tags