Jejak Kuas Asal-asalan: Perjuangan Ekonomi di Aspal Ibukota

Ridwan Hanif

Di tengah hiruk pikuk Jakarta, di sepanjang jalan-jalan protokol yang membentang dari pusat hingga timur ibu kota, tersaji sebuah pemandangan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap perkotaan: jasa cat duco pinggir jalan. Layanan perbaikan bodi kendaraan yang informal ini, meski beroperasi di bawah tekanan ekonomi, terus bertahan sebagai solusi cepat dan ramah di kantong bagi para pemilik kendaraan yang tak memiliki asuransi atau terpaksa menghemat pengeluaran. Fenomena ini terlihat jelas di area-area seperti Salemba, Matraman, hingga Kramat Raya, menunjukkan betapa tingginya permintaan akan perbaikan bodi kendaraan yang instan.

Menurut Bebin Djuana, seorang pengamat otomotif, keberadaan bengkel dadakan di tepi jalan bukanlah hal baru di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa daya tarik utama jasa ini terletak pada kecepatan penanganannya yang jauh melampaui prosedur rumit di bengkel resmi. Banyak konsumen, lanjut Bebin, memilih opsi ini ketika membutuhkan perbaikan kilat untuk menyamarkan goresan atau kerusakan kecil pada kendaraan mereka. "Konsumen sering kali membutuhkan layanan perbaikan bodi kendaraan secara instan, jauh lebih cepat dari bengkel body repair," ujar Bebin, menekankan bahwa ini adalah solusi pelarian bagi mereka yang ingin segera memperbaiki tampilan kendaraan tanpa membuang waktu.

Namun, di balik kecepatan dan keterjangkauan, Bebin mengingatkan adanya konsekuensi terhadap kualitas dan ketahanan hasil pekerjaan. Keterbatasan peralatan dan bahan yang digunakan oleh para pekerja informal ini, menurutnya, berdampak pada hasil akhir yang mungkin tidak sebanding dengan bengkel profesional. "Tentu biayanya juga standar pinggir jalan, dengan konsekuensi kualitas pekerjaan ala kadarnya dan tidak tahan lama," tuturnya. Ia mengidentifikasi bahwa pelanggan setia jasa ini umumnya berasal dari kalangan yang berupaya keras menekan pengeluaran serendah mungkin, atau para pengemudi yang menghindari teguran dari atasan akibat kerusakan minor pada kendaraan. "Biasanya yang memanfaatkan jasa perbaikan pinggir jalan mereka yang tidak melindungi kendaraan dengan asuransi atau sopir yang takut kena damprat bos akibat srempetan di jalan," jelas Bebin.

Faktor perlindungan finansial kendaraan memang menjadi pembeda utama dalam pemilihan lokasi perbaikan. "Jasa ini buat mereka yang tidak cover asuransi," tegas Bebin, memperjelas bahwa layanan ini menjadi pilihan utama bagi mereka yang tidak tercover oleh polis asuransi kendaraan. Ia juga menyoroti bahwa keterbatasan modal seringkali menghambat para pekerja untuk menghasilkan pengecatan yang optimal, meskipun mereka memiliki keterampilan teknis. "Butuh biaya besar untuk menyediakan ruang oven dan peralatan profesional, sementara mereka bekerja di ruang terbuka," tambahnya. Lebih lanjut, Bebin mengamati bahwa tekanan dari konsumen yang ingin menekan biaya serendah mungkin seringkali memaksa penggunaan material berkualitas rendah. "Ada harga ada barang," pungkasnya, menyiratkan bahwa kualitas berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan.

Dari perspektif ekonomi makro, menjamurnya sektor jasa cat duco pinggir jalan ini erat kaitannya dengan ketersediaan lapangan kerja formal yang kian terbatas di Jakarta. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 mencatat angka pekerja informal di Jakarta mencapai 1,98 juta orang, sebuah angka yang signifikan. M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, berpendapat bahwa usaha seperti ini tumbuh akibat kombinasi permintaan pasar dan tekanan biaya hidup. "Usaha seperti cat duco pinggir jalan tumbuh karena ada permintaan, tetapi juga karena masyarakat mencari sumber pendapatan alternatif," kata Rizal.

Ia menambahkan bahwa dalam kondisi daya beli yang sedang lesu, masyarakat kelas menengah ke bawah cenderung memprioritaskan fungsionalitas dan efisiensi biaya daripada kesempurnaan layanan seperti yang ditawarkan oleh bengkel resmi. "Dalam kondisi daya beli tertekan, banyak konsumen lebih memilih ‘cukup rapi dan murah’ daripada layanan sempurna tetapi mahal," jelas Rizal. Namun, di balik pertumbuhan ekonomi informal ini, Rizal menyoroti adanya kerentanan sosial bagi para pekerjanya, mengingat ketiadaan jaminan kesehatan dan perlindungan kerja yang memadai. "Produktivitas mereka ada, tetapi belum ditopang ekosistem usaha yang aman dan berkelanjutan," tandasnya.

Di lapangan, konsumen seperti Ferdi (38) mengaku lebih memilih jasa pinggir jalan karena efisiensi waktu. Ia menuturkan bahwa pengerjaan yang hanya memakan waktu beberapa jam di tepi jalan jauh lebih praktis dibandingkan di bengkel resmi yang bisa memakan waktu berhari-hari. "Kalau cuma lecet sedikit sayang kalau masuk bengkel besar. Yang penting rapi dan cepat," ujarnya, menekankan bahwa prioritasnya adalah hasil yang memuaskan secara visual tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Para pekerja seperti Luhur (32) menjelaskan bahwa praktik pengecatan sebenarnya tidak selalu dilakukan di trotoar. Setelah kesepakatan tercapai dengan pelanggan, kendaraan seringkali dibawa ke bengkel kecil untuk proses pengecatan yang lebih proper. "Kita di jalan cuma cari customer. Kalau sudah deal, mobil dibawa ke bengkel. Ngecatnya tetap di bengkel, bukan di sini," ungkap Luhur. Model bisnis ini sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam menarik perhatian pelanggan yang melintas setiap hari, namun ketidakpastian penghasilan menjadi risiko harian yang harus mereka hadapi. "Kadang sehari bisa dapat dua sampai tiga mobil. Kadang seminggu kosong juga ada," tuturnya, menggambarkan betapa fluktuatifnya mata pencaharian ini.

Maman (50), yang telah menggeluti bidang ini sejak tahun 1996, menyoroti kemandirian sebagai karakteristik utama dari pekerjaan informal ini. Berbeda dengan karyawan yang tetap menerima gaji meski tidak bekerja, para pekerja informal harus aktif mencari peluang untuk mendapatkan penghasilan. "Sekarang orang susah cari kerja. Akhirnya ikut beginian. Tinggal kenal bengkel, bisa mulai," ucap Asep, pekerja cat duco lainnya, mengindikasikan bahwa minimnya akses ke pekerjaan formal mendorong banyak warga untuk memilih sektor ini sebagai tumpuan hidup. Selain ketidakpastian ekonomi, ancaman kesehatan akibat paparan zat kimia secara terus-menerus tanpa alat pelindung diri yang memadai juga menjadi risiko yang menghantui para pekerja. "Kalau habis nyemprot atau di bengkel lama, kepala suka pusing. Napas juga kadang sesak," keluh Asep.

Dari sudut pandang sosiologis, Rakhmat Hidayat, seorang sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menilai fenomena ini sebagai strategi bertahan hidup masyarakat urban yang tidak terserap oleh sektor industri formal. "Kota besar seperti Jakarta menjadi ruang bertemunya arus migrasi, kebutuhan ekonomi, dan keterbatasan lapangan kerja formal," jelas Rakhmat. Ia melihat adanya penggunaan ruang marginal kota secara ilegal namun masif sebagai dampak dari kebutuhan ekonomi yang mendesak. "Jasa cat duco pinggir jalan adalah fenomena berkembangnya ekonomi informal perkotaan yang fleksibel, murah, dan cepat diakses," katanya. Rakhmat mengategorikan kelompok pekerja ini sebagai bagian dari kelompok rentan yang perannya nyata namun seringkali terabaikan secara administratif. "Mereka penting bagi ekonomi kota, tetapi keberadaannya sering tidak diakui secara penuh oleh sistem formal," tegasnya. Rakhmat menyarankan pemerintah untuk mengedepankan pendekatan yang lebih humanis, mengakui keberadaan sektor informal sebagai bagian integral dari ekonomi kota, bukan semata-mata sebagai masalah ketertiban umum.

Secara regulasi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menegaskan bahwa penggunaan trotoar untuk aktivitas usaha melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007. Yogi Ikhsan, juru bicara DLH DKI Jakarta, menjelaskan bahwa pasal 24-26 Perda tersebut melarang kegiatan usaha di bagian jalan atau trotoar, kecuali di tempat yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, penindakan di lapangan menjadi tanggung jawab Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). "Kegiatan cat duco pinggir jalan pada umumnya tidak sesuai dengan ketentuan di atas, dan seharusnya dilakukan penindakan oleh instansi terkait ketertiban umum," kata Yogi.

Kasatpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan Panggabean, mengakui adanya kendala dalam menertibkan para pekerja ini, yang seringkali kembali beroperasi setelah dirazia. "Sering dilakukan penertiban sama Satpol PP Kecamatan Senen. Tapi seperti kucing-kucingan," ujarnya. Ia mendorong adanya solusi kolaboratif untuk merelokasi para pekerja ke tempat yang lebih layak tanpa mengganggu fungsi fasilitas umum. "Memang perlu kolaborasi untuk menampung mereka, warga sekitar, untuk bisa mencari nafkah dengan menampung di suatu tempat sehingga mereka bisa mencari nafkah," katanya. Meski demikian, petugas Satpol PP tetap diinstruksikan untuk terus melakukan patroli rutin guna menjaga ketertiban di titik-titik rawan keramaian jasa cat duco tersebut.

Also Read

Tags